Sep 28 2015

Tantangan Koran di Era Digital

Published by under In the news,Uneg-uneg

Saya teringat pengalaman sekitar 15 tahun lalu ketika sedang menempuh program master di Norwegia. Saat itu, salah satu situs web berita yang selalu saya kunjungi setiap hari adalah Kedaulatan Rakyat (KR) daring (online). Bahkan, saya pun mengirimkan beberapa tulisan yang dimuat dalam edisi daring. Ternyata aktivitas tersebutjuga dilakukan oleh banyak kawan lain yang berasal dari Yogyakarta. Apa yang menjadikan kami setia mengakses KR daring? Ada nilai yang tidak ditawarkan oleh koran lain.

Nilai Berita

Perspektif untuk mengukur nilai berita (‘newsworthiness’) yang dinyatakan oleh Galtung dan Ruge, pada 1965, nampaknya masih relevan ditengok kembali. Nilai berita ditentukan oleh beragam aspek, seperti dampak, audiens, dan cakupan. Dampak berita ditentiukan antara lain oleh frekuensi dan kejutan. Peristiwa yang terlalu sering muncul tidak lagi menarik, seperti halnya berita yang dapat ditebak.

Karateristik audiens juga menentukan berita yang dibacanya. Karenanya, berita perlu dibidik dari sudut yang menempatkan audiens/manusia di pusatnya. Manusia tertarik dengan berita atau cerita tentang manusia. Berita yang memotret kalangan elit sering kali lebih menarik. Tingkat keberartian juga mempengaruhi nilai. Berita yang relevan dengan audiens, seperti kedekatan kultural dan aspirasi, cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi. Ini juga nampaknya yang menjadikan KR ‘ngangeni’ untuk pembaca yang pernah bersentuhan dengan Yogyakarta, seperti ilustrasi pembuka.

Cakupan berita ditentukan oleh beberapa faktor. Peritiswa yang sesuai nilai yang dianut oleh koran seringkali mendapatkan porsi penting, dibandingkan dengan yang berseberangan. Kontinuitas berita untuk peristiwa yang berlangsung cukup lama juga menjadikan berita lebih bernilai. Untuk menyasar audiens yang berbeda, tidak jarang, redaksi koran mengenalkan komposisi rubrik yang beragam. Komposisi ini juga menentukan nilai berita.

Jiak di era digital ini, Galtung dan Ruge mengunjungi kembali perspektif yang ditawarkan 50 tahun lalu, sangat mungkin ada aspek lain yang menentukan nilai berita. Kini, perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah mengubah lanskap industri media cetak.

Dampak Internet

Perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah menantang beragam asumsi awal tentang bagaimana kita memandang produksi dan penyebaran informasi. Berita adalah informasi, hasil pengolahan data. Internet telah mengakibatkan ‘perusakan kreatif’ (creative destruction) – meminjam istilah Schumpeter. ‘Kerusakan’ seperti apa yang diakibatkan oleh Internet?

Internet memungkinkan kecepatan distribusi informasi, memperluas jangkauan sebarannya, dan memfasilitasi interaksi serta kolaborasi. Koneksi Internet memungkinkan distribusi informasi dalam kecepatan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Karenanya, nilai berita lain terkait dengan ‘kehangatan’ dapat dijamin. Selain, jika koran cetak mempunyai jangkauan yang terbatas, yang secara sederhana diindikasikan dengan oplah, tidak demikian halnya dengan koran daring. Singkatnya, Internet telah menghilangkan batas waktu dan ruang.

Selain itu, koran daring juga dapat menjadi ruang publik baru yang memungkinkan interaksi antaradudiens. Pengalaman yang sulit didapatkan dalam koran cetak. Interaksi bisa ditingkatkan dalam ranah kolaborasi, yang memungkinkan audiens berkontribusi dalam memberikan informasi. Konsep jurnalisme warga yang difasilitasi oleh beragam koran daring adalah contoh manifestasinya. Perspektif yang ditawarkan, karenanya, menjadi sangat beragam.

Tetapi, digitalisasi informasi memunculkan tantangan lain. Meski demikian, harga informasi tidak didasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tetapi oleh nilai yang ditawarkan. Sialnya, biaya produksi informasi bisa jadi sangat mahal, tetapi biaya reproduksinya sangat murah. Persaingan dalam industri ini semakin ketat bisa menjadikan biaya reproduksinya mendekati nol. ‘Salin-tempel’ informasi digital bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal. Karenanya, fokus pada nilai menjadi satu-satunya pilihan pengelola koran untuk bertahan dan berkembang, untuk mencapai misinya.

Perspektif Baru?

Perspektif baru apa yang dapat ditawarkan? Pertama, saat ini, banyak audiens koran cetak, terutama kalangan muda yang melek Internet, tidak lagi tertarik dengan berita ‘basi’. Ukuran ‘basi’ menjadi semakin singkat. Berita kemarin, oleh banyak audiens sudah masuk dalam kategori ‘basi’, apalagi jika dalam 24 jam terakhir, misalnya, perkembangannya sangat cepat. Semakin ‘basi’, sebuah berita semakin tidak bernilai. Untuk mendapatkan berita mutakhir dan hangat, mereka dengan mudah mengakses situs web. Yang dicari audiens dari koran cetak tidak lagi hanya sebatas berita ‘jepretan sesaat’, tetapi analisis yang lebih mendalam. Ada perspektif yang ditawarkan. Rubrik opini, ulasan, atau tokoh bisa menjadi lebih menarik.

Kedua, hanya mengandalkan koran cetak nampaknya juga bukan keputusan bijak. Pengelola koran harus memikirkan dengan serius strategi yang ‘pas’. Koran daring tidak dapat hanya merupakan salinan dari koran cetak. Beragam strategi yang dipakai di lapangan, mulai dengan penentuan waktu pemutakhiran berita, pemberian hak akses berbayar untuk informasi atau konten tertentu, sampai dengan membundel akses daring dengan langganan koran cetak. Bundel ini juga bisa untuk mitra pemasang iklan, misalnya.

Ketiga, pengelola koran, perlu juga ‘memfasilitasi’ generasi muda yang melek Internet, para pribumi digital. Inisiatif untuk menjadikan koran daring sebagai sarana interaksi dan kolaborasi sehat antaraudiens perlu dipikirkan serius. Ini penting karena informasi adalah ‘barang pengalaman’. Fasilitasi membagi berita melalui kanal sosial media, juga perlu serius dipikirkan. Pelibatan media sosial dalam memperluas jaringan, dan meningkatkan nilai berita. Intinya, jangan hanya berfokus kepada ‘kompetitor’, tetapi berikan perhatian kepada ‘kolaborator’ dan ‘kompelementor’. Audiens dan mitra masuk ke dalam kelompok ini.

Keempat, selain itu, beberapa pengelola juga memilih mengenalkan akses multikanal. Untuk mengakses berita atau informasi, audiens diberi keleluasaan. Teknologi berbasis web konvensional bisa jadi sudah tidak menarik lagi, karena penetrasi perangkat bergerak semakin tinggi. Lagi-lagi, pengelola koran perlu memberikan layanan yang responsif, karena menampilkan informasi dalam perangat bergerak berbeda dengan di situs web. Bahkan tidak jarang, koran cetak tidak hanya dilengkapi dengan koran daring, tetapi ada kanal berita lain yang dibesut, seperti radio dan televisi. Ini adalah strategi ‘reuse’ dan ‘resale’. Jangkauan yang luas ini juga pada akhirnya mempengaruhi nilai berita.

Tantangan di atas dihadapi untuk semua koran cetak, termasuk KR yang tahun ini sudah menginjak usia 70 tahun. Akhirnya, dirgahayu untuk KR, hadirkan selalu berita yang bernilai. Tetaplah ‘ngangeni’ dan menjadi penyambung ‘suara hati nurani rakyat’ yang sensitif dengan perubahan zaman.

Bacaan Lanjutan

Galtung, J., & Ruge, M. H. (1965). The structure of foreign news: the presentation of the Congo, Cuba and Cyprus Crises in four Norwegian newspapers. Journal of Peace Research, 2(1), 64-90.

Shapiro, C., & Varian, H. R. (2013). Information Rules: A Strategic Guide to The Network Economy. Boston: Harvard Business Press.

Tulisan ini dibuat dalam rubrik Opini edisi Ulang Tahun ke-70 Kedaulatan Rakyat, 27 September 2015.


Comments Off on Tantangan Koran di Era Digital

Jul 04 2015

Mendaras Agama Lewat Teknologi

Published by under Ulasan,Uneg-uneg

Beberapa hari menjelang Ramadan, sebuah meme gambar menyebar lewat media sosial. Meme tersebut menggambarkan penyuara kuping (earphone, headset) yang dikontraskan dengan tasbih, dan komputer tablet yang dilawankan dengan Alquran cetakan. Pesan yang nampaknya akan disampaikan adalah: penyuara kuping dan komputer tablet adalah musuh dalam beragama. Atau lebih spesifik, kedua artefak harus dijauhi selama Ramadan. Nampaknya, pembuat gambar mempunyai pandangan yang sempit terhadap artefak tersebut, terjebak pada simbol dan perumuman (generalisasi) yang tidak hati-hati. Mengapa?

Bisa jadi yang didengarkan melalui penyuara kuping adalah kajian agama atau murattal Alquran, dan komputer tablet juga digunakan maksud serupa, mendengarkan resitasi Alquran. Tasbih dan Alquran cetakan (bukan teks Alqurannya) adalah artefak teknologi untuk mendukung keberagamaan. Tasbih bisa mewujud dalam bentuk elektronik, Alquran bisa dikemas dalam sebuah aplikasi digital. Kata kuncinya adalah fungsi, bukan bentuk artefak. Penyuara kuping dan komputer tablet mempunyai beragam fungsi yang ditentukan oleh niat penggunanya.

Saya teringat ‘Kitab Fathurrahman li Thalibi Ayatil Quran’, kitab yang berisi indeks Alquran, untuk mencari ayat dengan tema tertentu atau dengan penggalan kata tertentu. Kitabnya sangat tebal. Fungsi kitab tersebut dapat diambil alih oleh teknologi digital telah memungkinkan pencarian ayat Alquran dengan mudah. Banyak aplikasi, baik dalam versi bergerak untuk gawai (gadget) maupun versi daring (online) di Internet. Berikut adalah beberapa contoh.

Situs web http://www.quran.com memberikan berbagai kemudahan dalam mempelajari kandungan Alquran dengan terjemahan beragam bahasa, termasuk tafsir Jalalain (salah satu kitab tafsir paling populer di kalangan pesantren) perayat. Fungsi pencarian layaknya ‘Kitab Fathurrahman’ ditemukan di sana. Menginginkan fungsi terjemahan per kata? Buka corpus.quran.com. Lebih dari itu, situs web ini bahkan memungkinkan kita mengakses resitasi dan arti perkata, serta analis sintaksisnya. Lebih menarik lagi, kita bisa mendapatkan peta konsep dalam Alquran. Peta ini sangat bermanfaat mempelajari hubungan antarkonsep dan ayat dalam Alquran berdasarkan kontennya.

Sebagai contoh, pilih konsep awal physical substance (zat fisis). Konsep ini terkait dengan clay (lempung), silk (sutra), dust (debu), oil (minyak), glass (kaca), coral (batu karang), soil (tanah), pearl (mutiara), mineral (mineral), dan metal (logam). Jika kita telusur lebih jauh, metal yang disebut dalam Alquran terdiri atas brass (kuningan, campuran tembaga dan seng – dalam Alquran terjemahan Kemenag: besi), gold?(emas), silver (perak), dan iron?(besi). Jika ditelisik lebih jauh,? besi yang dalam bahasa Arab,? hadid muncul enam kali dalam?Alquran, termasuk dalam ben?tuk Al-aghlal yang berarti ran-?tai besi. Coba lacak konsep lain.? Situs web corpus.quran.com sangat mungkin memberikan kejutan-kejutan pengetahuan.

Ingin mengakses sumber agama yang lain, Hadis? Buka sunnah.com. sebanyak 13 kitab Hadis masyhur, seperti Sahih Albukhori, Sahih Muslim, Muwatta’ Malik, Bulugh Almaram, sampai Arbain Nawawi, telah didigitalkan di sini. Situs web ini melengkapinya dengan terjemah beberapa bahasa dan fitur pencarian. Ketikkan kata fasting (puasa), sebanyak 1.622 Hadis akan diidentifikasi dari berbagai kitab. Pilih salah satu Hadis yang akan dilihat lebih jauh, kita dapat menemukan terjemah dalam bahasa Indonesia, jika bahasa Arab dan bahasa Inggris masih terasa asing bagi kita.

Pelajaran apa yang bisa kita dapat? Jangan terjebak simbol dan gegabah menyuntikkan nilai peyoratif mati pada sebuah artefak teknologi. Teknologi yang dibingkai niat yang tepat dapat membantu penggunanya mendaras agama. Teknologi bahkan telah membuka akses sebanyak mungkin orang dalam mendaras agama. Tentu, hal ini tidak berarti kita meninggalkan guru-guru kita. Kembali ke ilustrasi pembuka: penyuara kuping bukanlah musuh tasbih, dan komputer tablet bukan lawan Alquran cetakan. Insya Allah.

Tulisan ini telah dimuat dalam Koran Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2015.


Comments Off on Mendaras Agama Lewat Teknologi

Jun 12 2015

BI Rate, Pertumbuhan dan Infrastruktur

Bank Indonesia akhirnya tetap mematok BI Rate sebagai suku bunga acuan pada 7,50%. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari kebijakan moneter yang cenderung ketat demi menjaga inflasi di kisaran 4+/-1% selama beberapa waktu ke depan (KRJogja.Com/19/05/2015).

Bagi dunia usaha, BI Rate pada kondisi ekonomi saat ini dirasa kurang kompetitif untuk menstimulus ekonomi nasional yang sedang lesu. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I hanya 4,71% atau dibawah perkiraan BI di kisaran 5% dan pemerintah pun merevisi target pertumbuhan dari 5,7% menjadi 5,4% untuk tahun 2015. Dalam kondisi semacam ini, penurunan BI Rate sebenarnya sangat diharapkan untuk menggerakkan roda perekonomian.

Namun demikian, BI memang dalam posisi relatif sulit karena tekanan pelemahan pertumbuhan dalam negeri juga diikuti indikator makro internasional yang tidak kondusif. Tiongkok mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 7,0% atau turun dari 7,4%. Sejumlah negara emerging markets lainnya juga mengalami hal serupa yang menandakan recovery perekonomian dunia masih terus berjalan.

Sementara dari Amerika Serikat, bayang-bayang kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi salah satu sentimen yang perlu dipertimbangkan. Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada Juni atau September 2015 ini yang berpotensi membuat investor asing memindahkan dananya ke negeri Paman Sam tersebut.

Solusi yang umum digunakan bank sentral negara lain adalah menaikkan atau minimal menahan suku bunganya untuk menghindari capital outflow. Hal ini memang tidak berlaku bagi bank sentral Tiongkok yang justru memangkas suku bunga untuk menggenjot pertumbuhan. Namun bagi bank sentral negara berkembang seperti Indonesia, pilihan tidak menurunkan suku bunga dianggap lebih realistis.

Suku bunga acuan yang tidak berubah saat ini juga merupakan salah satu senjata Bank Indonesia menghadapi Ramadhan yang kurang dari sebulan lagi tiba. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia mengalami kecenderungan inflasi selama Ramadhan dan setelahnya karena aktivitas ekonomi yang tinggi.

Infrastruktur untuk Pertumbuhan

Mengingat suku bunga bank sentral sulit diandalkan sebagai motor penggerak pertumbuhan, maka wajar jika Pemerintahan Jokowi-JK disarankan lebih fokus pada proyek infrastruktur. Anggaran pemerintah untuk proyek infrastruktur dalam APBN-P 2015 merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia dengan nilai hampir mencapai Rp300 Triliyun.

Perkembangan Anggaran Infrastruktur dalam APBN (Rp Triliun)

Perkembangan Anggaran Infrastruktur dalam APBN (Rp Triliun) Sumber: Bareksa.com

Anggaran yang sebesar itu, tentu menjadi potensi untuk membangun sarana dan prasarana yang akan mengakselerasi pertumbuhan. Apalagi, pemerintahan Jokowi-JK memang menjadikan infrastruktur sebagai program unggulan selama kampanye maupun setelahnya. Tentu wajar jika pemerintah diharapkan lebih fokus mengelola dana sebesar itu agar realisasinya juga sesuai dengan harapan.

Anggaran infrastruktur dan juga penanaman modal negara (PMN) yang besar pada masa pemerintahan ini tidak lepas dari kecenderungan penurunan harga minyak dunia. Persaingan industri minyak antara sejumlah negara utama dan kompetitornya menyebabkan harga minyak dunia turun. Momentum ini telah dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintahan Jokowi-JK untuk memangkas subsidi bahan bakar dan menggantinya untuk pembangunan infrastruktur. Pemerintahan Jokowi-JK bahkan dianggap sebagian analis sedang membawa Indonesia menuju capaian pembangunan Tiongkok yang pada dua hingga tiga dasawarsa lalu dimulai dari investasi besar-besaran di sektor infrastruktur.

Perkembangan Penyertan Modal Negara (PMN) pada BUMN

Perkembangan Penyertan Modal Negara (PMN) pada BUMN Sumber: Bareksa.com

 

Komitmen pemerintah untuk menyukseskan proyek infrastruktur sendiri memang sudah nampak jelas. Selain sejumlah road show Presiden Jokowi di berbagai event internasional, komitmen di bidang hukum terkait infrastruktur juga telah dilakukan. Perubahan ketiga atas Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaran Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum misalnya tengah disiapkan untuk menjamin proyek infrastruktur lebih mudah diekskusi dan tidak terhalang masalah pembebasan lahan.

Namun demikian, satu hal tetap perlu dicatat dalam konteks infrastruktur, yaitu pembiayaannya yang berasal dari pajak. Dengan target pendapatan pajak mencapai Rp1.489,3 Triliyun pada APBN-P, proyek infrastruktur akan sangat dipengaruhi realisasi penerimaan pajak. Sampai dengan kuartal I, baru 13,3% realisasi penerimaan pajak tercapai, jauh tertinggal dibandingkan capaian dua tahun anggaran sebelumnya.

Dari sini kemudian tantangan bagi pemerintahan Jokowi-JK muncul yaitu menggenjot penerimaan pajak dan mengawal proyek infrastruktur. Meskipun tidak mudah, pemerintah kali ini sebenarnya memiliki banyak momentum salah satunya berupa penyerapan anggaran yang relatif lebih baik dibanding masa pemerintahan sebelumnya. Artinya tidak ada alasan lagi bagi pemerintah selain bekerja lebih giat dan fokus agar pertumbuhan ekonomi di kuartal II lebih baik dan janji-janji peningkatan kualitas hidup rakyat dapat dipenuhi.

Tulisan ini merupakan versi yang telah dilengkapi dari artikel yang saya kirimkan ke SKH Kedaulatan Rakyat. Artikel ini kemudian dipublikasikan pada Senin, 1 Juni 2015 dalam kolom Opini pada halaman 12. Tanggung jawab atas isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Comments Off on BI Rate, Pertumbuhan dan Infrastruktur

Mar 16 2015

Bahan Kuliah: Hukum Perikatan 2015

Published by under Research

Download bahan kuliah: click here

Comments Off on Bahan Kuliah: Hukum Perikatan 2015

Mar 06 2015

eBudgeting

Dalam sebuah konferensi internasional, seorang peserta bertanya ketika saya selesai mempresentasikan eProcurement (lelang online) di Indonesia: Apakah Anda yakin sistem tersebut benar-benar menghapus korupsi? Jawab saya: Tidak seratus persen. Saya jelaskan bahwa korupsi dalam ranah pengadaan barang dan jasa, mencakup semua spektrum, tidak hanya pada saat lelang. “Bau busuk” korupsi dapat tercium mulai pada saat perencanaan atau penyusunan anggaran. Drama kekisruhan antara DPRD dan Gubernur DKI Jakarta (Ahok) dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) adalah buktinya.

Dalam beberapa pekan terakhir, publik diberi tontonan menarik ini. Mengapa menarik? Meskipun ini adalah masalah DKI Jakarta, kisruh ini adalah yang pertama terjadi di Indonesia secara telanjang. Publik semakin dewasa dan lebih peduli dengan masalah bangsa. Diskusi publik di banyak media, termasuk media sosial, adalah indikasinya. Saling tuduh siapa mengubah RAPBD adalah menu utamanya. Ahok menuduh DPRD yang menambah anggaran “siluman” sebesar Rp 12,1 triliun. Sebaliknya, DPRD menuding pihak eksekutif yang melakukannya. Bahkan, kekisruhan ini bereskalasi dalam beberapa hari terakhir, dengan aksi saling melaporkan.

Bagaimana mengurangi “bau busuk” korupsi yang mungkin terjadi pada saat penyusunan anggaran? Sistem eBudgeting yang digunakan oleh DKI Jakarta adalah salah satu jawabnya. Karena itulah, Ahok dapat dengan “mudah” mengetahui dan yakin munculnya anggaran “siluman”. eBudgeting adalah aplikasi teknologi informasi atau perangkat lunak untuk mendukung siklus penganggaran, mulai dari perencanaan, pembuatan program, sampai dengan kendali dan evaluasi. eBudgeting di Indonesia sebetulnya bukan hal baru. Kota Surabaya sudah menggunakannya mulai beberapa tahun yang lalu.

Apa manfaat dari eBudgeting? Pertama, kontrol akan lebih mudah dilakukan. Hanya mereka yang berhak yang dapat mengakses dan mengubah anggaran. Karenanya, pelacakan siapa mengisi apa seharusnya juga dapat dilakukan dengan mudah (jika fitur ini dikembangkan). Namun demikian, manfaat ini mewujud hanya jika asumsi orang yang berhak tersebut adalah orang-orang terpercaya.

Kedua, kontrol dapat dilakukan sejak tahap perencanaan. Pada kasus DKI Jakarta, eBudgeting didesain untuk dapat menolak usulan yang dianggap tidak relevan. Usulan anggaran yang “mengada-ada” dapat diminimalkan. Ahok mengklaim, fitur ini dalam sistem eBudgeting di DKI Jakarta telah menolak usulan anggaran yang tidak relevan sebesar Rp 5,3 triliun.

Ketiga, tranparansi anggaran dapat ditingkatkan. Saat ini, publik dapat melihat RAPBD detil dua versi secara online, meski tidak pada situs web resmi. Rasa penasaran publik terobati. Ke depan, RAPBD versi final, termasuk realisasinya secara detil seharusnya juga dapat diakses oleh publik. Sampai hari ini, sangat sulit mencari laporan realisasi APBD detil yang dapat diakses oleh publik. Masih banyak pihak yang risih dengan berbagai alasan. Supaya tidak hanya menjadi mimpi tanpa ujung, diperlukan keberanian khusus dari pada pemimpin pemerintahan semua tingkat. “Kalau bersih kenapa harus risih”, bunyi slogan sebuah iklan.

Keempat, kontrol realisasi anggaran akan menjadi lebih mudah dilakukan. Capaian pelaksanaan program dan keterserapan anggaran bahkan dapat diketahui secara langsung ketika sudah dilaporkan ke sistem. Dengan catatan, sistem eBudgeting memuat fitur ini. Dengan demikian, pemerintah menjadi lebih akuntabel, karena setiap rupiah pengeluaran dapat dilacak dengan mudah.

Daftar manfaat ini dapat diperpanjang, termasuk kemungkinan melakukan simulasi dan bahkan peramalan anggaran. Lagi-lagi, jika fitur ini dirasa perlu dan dimasukkan ke dalam sistem. Jika daftar manfaat ini terwujud, kepercayaan publik terhadap pemerintah pun dapat terungkit.

Namun demikian, perlu diingat, penggunaan eBudgeting bukan tanpa hambatan. Sebagai halnya banyak inisiatif penggunaaan teknologi informasi di sektor publik, hambatan terbesarnya bukan masalah teknis. Faktor non-teknis, termasuk kepentingan beragam orang yang terlibat, sangat mungkin lebih dominan. Nilai yang disuntikkan ke dalam sistem eBudgeting adalah kontrol dan transparansi. Tidak semua orang nyaman dengan ini. Masalah klasik, namun tetap aktual.

Tulisan ini dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat, 6 Maret 2015


Comments Off on eBudgeting

Mar 01 2015

MEA, Daya Saing dan Penelitian

Bersama dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara, tahun ini Indonesia memasuki tahapan baru dalam hubungan ekonomi regional seiring dengan penerapan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Bagi Indonesia, MEA merupakan peluang untuk membuktikan kapasitas ekonominya sebagai leader di kawasan strategis ini. Selain itu, MEA juga diharapkan tidak saja memperbesar kue ekonomi Indonesia, tapi juga pemerataan manfaatnya bagi rakyat secara keseluruhan.

Pemerataan menjadi penting mengingat meskipun merupakan kekuatan ekonomi terbesar ASEAN saat ini, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan masih relatif kalah dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Sebagai ilustrasi, penduduk Malaysia dan Thailand dapat dengan mudah menggunakan moda transportasi umum yang cepat dan nyaman dalam wujud kereta api atau monorel yang bagi masyarakat perkotaan Indonesia masih sebatas ada, belum berkualitas sepadan.

Karenanya meningkatkan daya saing menjadi kata kunci dalam upaya memaksimalkan keterlibatan Indonesa dalam MEA. Tujuannya tentu saja adalah agar jangan sampai MEA menjadikan penduduk Indonesia sebatas penonton di pinggir lapangan ekonomi kawasan. Salah satu faktor penting dalam mendukung daya saing ini adalah penelitian dan pengembangan atau research and development (R & D).

Penelitian dan pengembangan berkualitas menjadi urgen mengingat dari keduanyalah ide-ide baru nan cemerlang dapat digagas dan diwujudkan menjadi solusi atas beragam persoalan. Namun sayangnya pada sisi penelitian terutama yang berkualitas internasional, Indonesia justru tidak sekokoh ekonominya, jika dibandingkan sengan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Dari data yang dikompilasi Scimago Journal Ranking misalnya, perbandingan penelitian yang dipublikasikan pada jurnal atau seminar terindeks Scopus antara sejumlah negara ASEAN menunjukkan masih lemahnya daya saing peneliti Indonesia. Scopus sendiri merupakan database karya ilmiah bereputasi internasional yang merupakan salah satu rujukan dunia akademik. Data pada grafik berikut memberi gambaran bagaimana tertinggalnya Indonesia dibandingkan Thailang, Singapura dan Malaysia dalam hal publikasi.

Artikel Scopus Negara Asean Versi ScimagoJR

Grafik Jumlah Artikel Terindeks Scopus Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Viet Nam, 1996-2013

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, jumlah publikasi Indonesia, Malaysia, Thailand dan Viet Nam cenderung berada pada level yang sama, dengan Singapura tampil sebagai pemimpin di antara negara lainnya. Perubahan mulai terlihat ketika pada pertengahan 2000-an, Singapura, Thailand, dan Malaysia mengalami peningkatan publikasi sedangkan Indonesia dan Viet Nam cenderung statis.

Malaysia kemudian muncul sebagai kekuatan baru ketika mulai tahun 2008 mengalahkan Thailand dan akhirnya pada tahun 2010 mengalahkan Singapura, yang selama ini menjadi kontributor publikasi utama. Setelahnya Malaysia benar-benar tidak terkejar.

Sampai dengan 2013, terdapat 23.190 judul artikel terindeks Scopus hasil karya Malaysia dan pada saat yang sama Singapura dan Thailand menyumbang masing-masing 17.052 dan 11.313 judul. Indonesia pada tahun yang sama memproduksi 4.175 atau unggul tipis dibandingkan Viet Nam yang menghasilkan 3.443. Indonesia dengan demikian baru mampu menghasilkan sekitar seperlima dibandingkan Malaysia, serta seperempat dan setengah dari Singapura dan Thailand.

Mengapa Indonesia sedemikian tertinggal dibandingkan negara tetangga? Salah satu alasan yang sering digunakan adalah kurangnya sinergi kelembagaan untuk mengakomodasi sumber daya berkualitas. Anak didik kita banyak sekali yang memenangi aneka olimpiade keilmuan di berbagai negara. Namun hal ini tidak menjamin bahwa kemudian mereka akan kuliah dan mengembangkan ilmunya di Indonesia. Seringkali karena berbagai alasan mereka memilih kuliah dan bahkan menetap di negara-negara maju atau bahkan sejumlah negara tetangga.

Larinya sumber daya manusia berkualitas ke luar negeri (brain drain) ini menyebabkan potensi dalam negeri berkurang. Sebenarnya wajar jika talenta terbaik kita sering memilih negara lain karena di sana memang fasilitas yang memadai dan pendapatan yang berlipat menjadi jaminan. Sebagai gambaran, High Impact Research (HIR) di Universiti Malaya, Malaysia mendapat dana hingga sekitar Rp2 Triliyun lebih untuk penelitian unggulannya. Sesuatu yang sulit dibayangkan akan diperoleh di Indonesia.

Karenanya, pemerintah baru yang saat ini telah menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi dalam satu kementrian, memiliki momentum untuk mengejar penelitian ini. Tujuannya tidak lain agar kualitas manusia Indonesia makin meningkat sehingga memiliki daya saing dalam mengarungi pasar bebas ASEAN. Jangan sampai selama MEA berlangsung bangsa kita masih saja mengandalkan TKI sebagai sumber devisa sedangkan bangsa lain mengirimkan ahli untuk menjadi narasumber di negara kita.

Artikel di atas merupakan versi original yang saya kirimkan ke SKH Kedaulatan Rakyat. Artikel ini dengan sejumlah perubahannya kemudian dipublikasikan pada Selasa, 24 Februari 2015 dalam kolom Opini pada halaman 10. Situs UII kemudian mengulas artikel ini dalam posting bertajuk “Pentingnya Peningkatan Daya Saing Penelitian dalam Menghadapi MEA”. Saya sepenuhnya bertanggung jawab atas tulisan ini.

Comments Off on MEA, Daya Saing dan Penelitian

Feb 20 2015

Webometrics antara penyemangat dan pengganggu

Webometrics adalah sebuah sistem perangkingan web perguruan tinggi di dunia, di tahun 2014 ini lebih dari 20ribu web  perguruaan tinggi di rangking dengan metode khas webometrics yang berpusat di Spanyol.  Memang dalam perjalanannya webometrics seakan menjadi penyemangat, namun di sisi lain juga sebagai “pengganggu”, bahkan saya pernah presentasi di suatu tempat berkenaan webometrics, malah beberapa baris depan sibuk sendiri dan ada yg tidur, yah karena memang memahami webometrics akan sebagai penggangu aktifitas mereka nanti yg sudah memasuki titik nyaman, titik stabil, sedangkan dengan keberadaan optimalisasi di kampus berkenaan media online perguruan tinggi bisa seakan nambah kerjaan.

Sebelum fokus di optimalisasi media online saya 9 tahun di  penerapan sistem manajemen mutu perguruan tinggi berbasis Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, dari versi 1994 sd 2008, waktu itu, dan memang merasakan bahwa sebuah sistem  yg baik ketika diterapkan dan menyentuh kepada budaya kerja yg sudah menjalar dari TAU SAMA TAU, akan menjadikan tumbuh resistensi. Resistensi ini sifatnya karena memang edukasi terhadapa sistem yang akan diterapkan bersifat kaku, menekan, mengawasi, dan ada evaluasi rutin, yg cukup mengganggu bagi beberapa orang yg memang tidak suka hasil kerjanya di evaluasi rutin.

Dari penerapan kedisiplinan media online dan sistem manajemen mutu di instansi pendidikan, ada beberapa benang merah yang bisa dijadikan pemahaman bersama, kebetulan juga beberapa kali menjadi tim konsultan penerapan sistem manajemen mutu dan optimalisai media online model webometrics di beberapa perguruan tinggi, ada yg bisa ditegaskan

  1. Penerapan upaya sistem yang baik, jika menyentuh pada aspek yg TERMONITOR, TERKONTROL, TERKENDALI maka pendekatan yg dilakukan harus  melebur pada budaya organisasi baru administrasi, sedangkan budaya organisasi diawali dari kesamaan persepsi, walau itu tidak harus semua elemen organisasi menyadari, perlu ada INTELEGEN dan AGEN PERUBAHAN yg ditanam di dalamnya
  2. Bahwa tantangan yang menarik adalah menciptakan ketika resistensi tinggi maka butuh konsistensi yg tinggi dari para AGEN-AGEN PERUBAHAN tsb, baik secara aktif memberikan edukasi dan pengertian, atau proaaktif ketika ada penolakan di lapangan, walau penolakan tidak mesti dalam bentuk perlaawanan, namun hanya berseberangan pandangan saja, sehingga membentuk jalur baru, yang nantinya seakan akan masing2 jalur memiliki satu kepentingan2 tersendiri, tidak integratif
  3. Untuk tahap awal, perubahan itu sebagai impact sj, bukan tujuan sehingga yg harus diperhatikan adalah bagaimana memberikan stimulasi bahwa sistem itu memang dibutuhkan baik dalam rangka perbaikan SDM, Manajemen keseluruhan, Daya Saing, Kecepatan, Kenyamanan dll karena selama ini penekaakan perubahan dengan penerapan sistem banyak yg terjebak kepada PENEKANAN dari KEKUASAAN, meski berwenang, meski bertanggungjawab, namun komunikasi terhadap KEKUASAAN menjadi KESADARAN itu menjadi penting, agar terjadi KESADARARAN BERSAMA, ini terbukti di internal ketika dulu mau di AUDIT MANAJEMEN MUTU selalu menghindar, menolak, menunda, sekarang beberapa justru minta cepat dan segera, untuk melihat performasi dengan unit lain.
  4. Ada ketauladanan dari pimpinan, ketika budaya menjadi akar masalah, maka ketauladanan adalah sinar terang dalam budaya itu sendiri,

Sehingga dalam perjalanannya penerapan webometrics memang tidak harus MENGAGETKAN stakeholder, namun dengan pola PIONER di beberapa unit, dan pemantauan yg terbuka, sehingga bisa dilihat apakah memang ada dampak yg baik, tidak merusak tatanan yg nyaman, dan yang penting adalah bahwa bisa diterapkan DENGAN MUDAH.

Semua agar menjadikan webometrics bukan pengganggu kenyamanan tetapi benar2 sebagai penyemangat, ada beberapa hal yg bisa ditekankan dalam membangun kesadaran akan adanya webometrics

  1. Pentingnya benchmarking yg murah, instan dan tidak perlu energi tinggi
  2. Pentingnya menyatukan arah opmtilisasai media online perguruan tinggi
  3. Pentingnya penguatan marketing dengan format webometrics, dalam hal ini perlu ditekankan kembali marketing memiliki banyak unsur salah satunya pola SOFT SELLING, kalau selama ini rajin iklan di koran, brosur, maka itu dirahah HARDSELLING
  4. Ada contohnya nyata dari unit yang memang membidangi media online, dijadikan pusat kajian penerapan awal, sehingga menjadi konsultatif secara internal.
  5. Meyinggunmg dalam beberapa pidato di internal berkenaan dengan webometrics menjadi ukuran peningkatan kualitas media onlline, karena hanya ukuran, maka sebagai instrumen luaran, suatu saat tentu bisa digantikan
  6. Menjadikan isyu general di internal di berbagai lapisan hingga ke satpam pun, agar menjadi trending topic yang akan meniingkatkan feedback positif dan negatif, tp tentu semua untuk kemajuan institusi

Comments Off on Webometrics antara penyemangat dan pengganggu

« Prev - Next »