Archive for the 'Uneg-uneg' Category

Mar 01 2016

Mazhab Media Sosial Politisi

Published by under In the news,Uneg-uneg

Wanita muda tersebut duduk dengan penuh konsentrasi di balkon salah satu ruang sidang komisi di gedung DPR RI. Jemarinya lincah mengetik dengan gawainya. Dia tidak sedang mengabaikan lingkungannya dan asyik dengan dunianya. Tetapi, dia sedang aktif membuat cuit dengan Twitter. Wanita itu bernama Hayati Indah Putri, pencetus dan pengawal WikiDPR.org, inisiatif nirlaba yang dengan sepenuh hati mengikuti dan mencatat diskusi pada hampir semua sidang di gedung tersebut. Kondisi hamil tidak menghalangi Mbak Indah, panggilan akrabnya, pemegang gelar master dari salah satu universitas terkemuka di Kanada, untuk ‘berkantor’ hampir setiap hari.

Dia dan puluhan relawan siap menjadi ‘penyambung suara wakil rakyat’ dengan menulis cuit secara langsung ketika sidang sedang berlangsung. Rangkuman sidang kemudian dimuat dalam laman WikiDPR.org. “Saya ingin rakyat tahu apa yang didiskusikan oleh wakilnya, melalui media sosial,” kata Mbak Indah ketika berdiskusi dengan penulis. Banyak orang mengatakan bahwa media sosial dapat menjadi kanal komunikasi antara rakyat dengan wakilnya, para politisi.

Betulkah demikian? Pengamatan dan diskusi penulis dengan beberapa politisi dan konsultan media sosial memberikan beberapa tilikan. Paling tidak terdapat empat mazhab terkait dengan media sosial yang diadopsi oleh para politisi.

Mazhab pertama adalah absen. “Saya mengandalkan pertemuan tatap muka dengan konstituen saya, sosial media tidak populer di kalangan mereka,” terang seorang politisi muda. Politisi tersebut termasuk aktivis media sosial, tetapi berasal dari sebuah daerah di mana penetrasi Internet dan sosial media tidak begitu kentara. Media sosial tidak menyelesaikan masalah yang sedang mereka hadapi. Hingar-bingar sosial media seringkali tidak mewakili jeritan mereka yang terpendam dalam. Untuk konteks seperti itu, penggunaan media sosial sebagai kanal partisipasi publik, laksana memberi sabun kepada pengungsi yang kelaparan.

“Saya sekarang sudah tidak percaya lagi dengan media sosial,” kata seorang konsultan media sosial yang terlibat banyak hajatan politik. Dia sering dijuluki “manipulator” media sosial, karena kecanggihannya dalam mempermainkan opini publik dengan beragam pesan di media sosial. Yang terpampang di media sosial adalah kosmetik untuk menjadikan seseorang politisi tampak lebih ‘kinclong’. Namun tidak demikian dalam kenyataannya. Nampaknya banyak politisi yang kepincut dengan layanan manipulasi jenis ini. Inilah mazhab kedua, mazhab manipulatif. Penganut mazhab ini dapat menjadikan isu sepele menjadi penting atau sebaliknya, mengalihkan perhatian dari isu penting. Politisi bermazhab ini tidak jarang menggunakan jasa para selebritas media sosial dengan banyak pengikut untuk menggiring opini publik, dengan imbalan yang cukup fantastis. Sebuah cuit dapat berharga puluhan juta.

Observasi penulis di beberapa tempat menemukan mazhab ketiga, yaitu instrumental. Politisi mazhab ini menggunakan media sosial untuk berkomunikasi dengan rakyat, tetapi dengan meminjam tangan orang lain. Kapasitas politisi yang terbatas adalah alasannya. Pesan yang terunggah pada media sosial adalah cerminan sikap politisi tersebut, yang dilakukan oleh asistennya, atau lembaga yang dipimpinnya. Tidak ada yang salah dalam mazhab ini, meski komunikasi yang dibangun cenderung mekanis.

Adakah mazhab yang lain? Mazhab keempat bersifat tulen, “genuine”. Politisi dalam mazhab ini membangun komunikasi organik yang lebih humanis. Setiap pesan yang terunggah media sosial lahir dari ketikan tangan politisi tersebut. Mazhab ini banyak diisi oleh politisi muda yang melek teknologi dan tidak ‘jaim’. Tidak semua politisi berani menjadi penganut mazhab ini. Hanya politisi dengan kadar keberanian dan kesabaran tingkat tertentu yang sanggup. Mereka siap menghadapi kemungkinan terburuk, berupa hujatan dan perundungan, atau ‘ditelanjangi’ secara daring. Mereka biasanya tidak tersandera masa lalunya.

Penganut mazhab manakah politisi pujaan Anda? Anda seorang politisi? Pengikut mazhab manakan Anda? Anda sendiri yang tahu.

Tulisan ini pernah dimuat pada rubrik Opini SKH Kedaulatan Rakyat 15 Februari 2016


Comments Off on Mazhab Media Sosial Politisi

Sep 28 2015

Tantangan Koran di Era Digital

Published by under In the news,Uneg-uneg

Saya teringat pengalaman sekitar 15 tahun lalu ketika sedang menempuh program master di Norwegia. Saat itu, salah satu situs web berita yang selalu saya kunjungi setiap hari adalah Kedaulatan Rakyat (KR) daring (online). Bahkan, saya pun mengirimkan beberapa tulisan yang dimuat dalam edisi daring. Ternyata aktivitas tersebutjuga dilakukan oleh banyak kawan lain yang berasal dari Yogyakarta. Apa yang menjadikan kami setia mengakses KR daring? Ada nilai yang tidak ditawarkan oleh koran lain.

Nilai Berita

Perspektif untuk mengukur nilai berita (‘newsworthiness’) yang dinyatakan oleh Galtung dan Ruge, pada 1965, nampaknya masih relevan ditengok kembali. Nilai berita ditentukan oleh beragam aspek, seperti dampak, audiens, dan cakupan. Dampak berita ditentiukan antara lain oleh frekuensi dan kejutan. Peristiwa yang terlalu sering muncul tidak lagi menarik, seperti halnya berita yang dapat ditebak.

Karateristik audiens juga menentukan berita yang dibacanya. Karenanya, berita perlu dibidik dari sudut yang menempatkan audiens/manusia di pusatnya. Manusia tertarik dengan berita atau cerita tentang manusia. Berita yang memotret kalangan elit sering kali lebih menarik. Tingkat keberartian juga mempengaruhi nilai. Berita yang relevan dengan audiens, seperti kedekatan kultural dan aspirasi, cenderung mendapatkan nilai lebih tinggi. Ini juga nampaknya yang menjadikan KR ‘ngangeni’ untuk pembaca yang pernah bersentuhan dengan Yogyakarta, seperti ilustrasi pembuka.

Cakupan berita ditentukan oleh beberapa faktor. Peritiswa yang sesuai nilai yang dianut oleh koran seringkali mendapatkan porsi penting, dibandingkan dengan yang berseberangan. Kontinuitas berita untuk peristiwa yang berlangsung cukup lama juga menjadikan berita lebih bernilai. Untuk menyasar audiens yang berbeda, tidak jarang, redaksi koran mengenalkan komposisi rubrik yang beragam. Komposisi ini juga menentukan nilai berita.

Jiak di era digital ini, Galtung dan Ruge mengunjungi kembali perspektif yang ditawarkan 50 tahun lalu, sangat mungkin ada aspek lain yang menentukan nilai berita. Kini, perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah mengubah lanskap industri media cetak.

Dampak Internet

Perkembangan teknologi informasi, terutama Internet, telah menantang beragam asumsi awal tentang bagaimana kita memandang produksi dan penyebaran informasi. Berita adalah informasi, hasil pengolahan data. Internet telah mengakibatkan ‘perusakan kreatif’ (creative destruction) – meminjam istilah Schumpeter. ‘Kerusakan’ seperti apa yang diakibatkan oleh Internet?

Internet memungkinkan kecepatan distribusi informasi, memperluas jangkauan sebarannya, dan memfasilitasi interaksi serta kolaborasi. Koneksi Internet memungkinkan distribusi informasi dalam kecepatan yang tidak dibayangkan sebelumnya. Karenanya, nilai berita lain terkait dengan ‘kehangatan’ dapat dijamin. Selain, jika koran cetak mempunyai jangkauan yang terbatas, yang secara sederhana diindikasikan dengan oplah, tidak demikian halnya dengan koran daring. Singkatnya, Internet telah menghilangkan batas waktu dan ruang.

Selain itu, koran daring juga dapat menjadi ruang publik baru yang memungkinkan interaksi antaradudiens. Pengalaman yang sulit didapatkan dalam koran cetak. Interaksi bisa ditingkatkan dalam ranah kolaborasi, yang memungkinkan audiens berkontribusi dalam memberikan informasi. Konsep jurnalisme warga yang difasilitasi oleh beragam koran daring adalah contoh manifestasinya. Perspektif yang ditawarkan, karenanya, menjadi sangat beragam.

Tetapi, digitalisasi informasi memunculkan tantangan lain. Meski demikian, harga informasi tidak didasarkan pada biaya yang dikeluarkan untuk mendapatkannya, tetapi oleh nilai yang ditawarkan. Sialnya, biaya produksi informasi bisa jadi sangat mahal, tetapi biaya reproduksinya sangat murah. Persaingan dalam industri ini semakin ketat bisa menjadikan biaya reproduksinya mendekati nol. ‘Salin-tempel’ informasi digital bukanlah sesuatu yang sulit dan mahal. Karenanya, fokus pada nilai menjadi satu-satunya pilihan pengelola koran untuk bertahan dan berkembang, untuk mencapai misinya.

Perspektif Baru?

Perspektif baru apa yang dapat ditawarkan? Pertama, saat ini, banyak audiens koran cetak, terutama kalangan muda yang melek Internet, tidak lagi tertarik dengan berita ‘basi’. Ukuran ‘basi’ menjadi semakin singkat. Berita kemarin, oleh banyak audiens sudah masuk dalam kategori ‘basi’, apalagi jika dalam 24 jam terakhir, misalnya, perkembangannya sangat cepat. Semakin ‘basi’, sebuah berita semakin tidak bernilai. Untuk mendapatkan berita mutakhir dan hangat, mereka dengan mudah mengakses situs web. Yang dicari audiens dari koran cetak tidak lagi hanya sebatas berita ‘jepretan sesaat’, tetapi analisis yang lebih mendalam. Ada perspektif yang ditawarkan. Rubrik opini, ulasan, atau tokoh bisa menjadi lebih menarik.

Kedua, hanya mengandalkan koran cetak nampaknya juga bukan keputusan bijak. Pengelola koran harus memikirkan dengan serius strategi yang ‘pas’. Koran daring tidak dapat hanya merupakan salinan dari koran cetak. Beragam strategi yang dipakai di lapangan, mulai dengan penentuan waktu pemutakhiran berita, pemberian hak akses berbayar untuk informasi atau konten tertentu, sampai dengan membundel akses daring dengan langganan koran cetak. Bundel ini juga bisa untuk mitra pemasang iklan, misalnya.

Ketiga, pengelola koran, perlu juga ‘memfasilitasi’ generasi muda yang melek Internet, para pribumi digital. Inisiatif untuk menjadikan koran daring sebagai sarana interaksi dan kolaborasi sehat antaraudiens perlu dipikirkan serius. Ini penting karena informasi adalah ‘barang pengalaman’. Fasilitasi membagi berita melalui kanal sosial media, juga perlu serius dipikirkan. Pelibatan media sosial dalam memperluas jaringan, dan meningkatkan nilai berita. Intinya, jangan hanya berfokus kepada ‘kompetitor’, tetapi berikan perhatian kepada ‘kolaborator’ dan ‘kompelementor’. Audiens dan mitra masuk ke dalam kelompok ini.

Keempat, selain itu, beberapa pengelola juga memilih mengenalkan akses multikanal. Untuk mengakses berita atau informasi, audiens diberi keleluasaan. Teknologi berbasis web konvensional bisa jadi sudah tidak menarik lagi, karena penetrasi perangkat bergerak semakin tinggi. Lagi-lagi, pengelola koran perlu memberikan layanan yang responsif, karena menampilkan informasi dalam perangat bergerak berbeda dengan di situs web. Bahkan tidak jarang, koran cetak tidak hanya dilengkapi dengan koran daring, tetapi ada kanal berita lain yang dibesut, seperti radio dan televisi. Ini adalah strategi ‘reuse’ dan ‘resale’. Jangkauan yang luas ini juga pada akhirnya mempengaruhi nilai berita.

Tantangan di atas dihadapi untuk semua koran cetak, termasuk KR yang tahun ini sudah menginjak usia 70 tahun. Akhirnya, dirgahayu untuk KR, hadirkan selalu berita yang bernilai. Tetaplah ‘ngangeni’ dan menjadi penyambung ‘suara hati nurani rakyat’ yang sensitif dengan perubahan zaman.

Bacaan Lanjutan

Galtung, J., & Ruge, M. H. (1965). The structure of foreign news: the presentation of the Congo, Cuba and Cyprus Crises in four Norwegian newspapers. Journal of Peace Research, 2(1), 64-90.

Shapiro, C., & Varian, H. R. (2013). Information Rules: A Strategic Guide to The Network Economy. Boston: Harvard Business Press.

Tulisan ini dibuat dalam rubrik Opini edisi Ulang Tahun ke-70 Kedaulatan Rakyat, 27 September 2015.


Comments Off on Tantangan Koran di Era Digital

Jul 04 2015

Mendaras Agama Lewat Teknologi

Published by under Ulasan,Uneg-uneg

Beberapa hari menjelang Ramadan, sebuah meme gambar menyebar lewat media sosial. Meme tersebut menggambarkan penyuara kuping (earphone, headset) yang dikontraskan dengan tasbih, dan komputer tablet yang dilawankan dengan Alquran cetakan. Pesan yang nampaknya akan disampaikan adalah: penyuara kuping dan komputer tablet adalah musuh dalam beragama. Atau lebih spesifik, kedua artefak harus dijauhi selama Ramadan. Nampaknya, pembuat gambar mempunyai pandangan yang sempit terhadap artefak tersebut, terjebak pada simbol dan perumuman (generalisasi) yang tidak hati-hati. Mengapa?

Bisa jadi yang didengarkan melalui penyuara kuping adalah kajian agama atau murattal Alquran, dan komputer tablet juga digunakan maksud serupa, mendengarkan resitasi Alquran. Tasbih dan Alquran cetakan (bukan teks Alqurannya) adalah artefak teknologi untuk mendukung keberagamaan. Tasbih bisa mewujud dalam bentuk elektronik, Alquran bisa dikemas dalam sebuah aplikasi digital. Kata kuncinya adalah fungsi, bukan bentuk artefak. Penyuara kuping dan komputer tablet mempunyai beragam fungsi yang ditentukan oleh niat penggunanya.

Saya teringat ‘Kitab Fathurrahman li Thalibi Ayatil Quran’, kitab yang berisi indeks Alquran, untuk mencari ayat dengan tema tertentu atau dengan penggalan kata tertentu. Kitabnya sangat tebal. Fungsi kitab tersebut dapat diambil alih oleh teknologi digital telah memungkinkan pencarian ayat Alquran dengan mudah. Banyak aplikasi, baik dalam versi bergerak untuk gawai (gadget) maupun versi daring (online) di Internet. Berikut adalah beberapa contoh.

Situs web http://www.quran.com memberikan berbagai kemudahan dalam mempelajari kandungan Alquran dengan terjemahan beragam bahasa, termasuk tafsir Jalalain (salah satu kitab tafsir paling populer di kalangan pesantren) perayat. Fungsi pencarian layaknya ‘Kitab Fathurrahman’ ditemukan di sana. Menginginkan fungsi terjemahan per kata? Buka corpus.quran.com. Lebih dari itu, situs web ini bahkan memungkinkan kita mengakses resitasi dan arti perkata, serta analis sintaksisnya. Lebih menarik lagi, kita bisa mendapatkan peta konsep dalam Alquran. Peta ini sangat bermanfaat mempelajari hubungan antarkonsep dan ayat dalam Alquran berdasarkan kontennya.

Sebagai contoh, pilih konsep awal physical substance (zat fisis). Konsep ini terkait dengan clay (lempung), silk (sutra), dust (debu), oil (minyak), glass (kaca), coral (batu karang), soil (tanah), pearl (mutiara), mineral (mineral), dan metal (logam). Jika kita telusur lebih jauh, metal yang disebut dalam Alquran terdiri atas brass (kuningan, campuran tembaga dan seng – dalam Alquran terjemahan Kemenag: besi), gold?(emas), silver (perak), dan iron?(besi). Jika ditelisik lebih jauh,? besi yang dalam bahasa Arab,? hadid muncul enam kali dalam?Alquran, termasuk dalam ben?tuk Al-aghlal yang berarti ran-?tai besi. Coba lacak konsep lain.? Situs web corpus.quran.com sangat mungkin memberikan kejutan-kejutan pengetahuan.

Ingin mengakses sumber agama yang lain, Hadis? Buka sunnah.com. sebanyak 13 kitab Hadis masyhur, seperti Sahih Albukhori, Sahih Muslim, Muwatta’ Malik, Bulugh Almaram, sampai Arbain Nawawi, telah didigitalkan di sini. Situs web ini melengkapinya dengan terjemah beberapa bahasa dan fitur pencarian. Ketikkan kata fasting (puasa), sebanyak 1.622 Hadis akan diidentifikasi dari berbagai kitab. Pilih salah satu Hadis yang akan dilihat lebih jauh, kita dapat menemukan terjemah dalam bahasa Indonesia, jika bahasa Arab dan bahasa Inggris masih terasa asing bagi kita.

Pelajaran apa yang bisa kita dapat? Jangan terjebak simbol dan gegabah menyuntikkan nilai peyoratif mati pada sebuah artefak teknologi. Teknologi yang dibingkai niat yang tepat dapat membantu penggunanya mendaras agama. Teknologi bahkan telah membuka akses sebanyak mungkin orang dalam mendaras agama. Tentu, hal ini tidak berarti kita meninggalkan guru-guru kita. Kembali ke ilustrasi pembuka: penyuara kuping bukanlah musuh tasbih, dan komputer tablet bukan lawan Alquran cetakan. Insya Allah.

Tulisan ini telah dimuat dalam Koran Kedaulatan Rakyat, 3 Juli 2015.


Comments Off on Mendaras Agama Lewat Teknologi

Mar 06 2015

eBudgeting

Dalam sebuah konferensi internasional, seorang peserta bertanya ketika saya selesai mempresentasikan eProcurement (lelang online) di Indonesia: Apakah Anda yakin sistem tersebut benar-benar menghapus korupsi? Jawab saya: Tidak seratus persen. Saya jelaskan bahwa korupsi dalam ranah pengadaan barang dan jasa, mencakup semua spektrum, tidak hanya pada saat lelang. “Bau busuk” korupsi dapat tercium mulai pada saat perencanaan atau penyusunan anggaran. Drama kekisruhan antara DPRD dan Gubernur DKI Jakarta (Ahok) dalam penyusunan Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) adalah buktinya.

Dalam beberapa pekan terakhir, publik diberi tontonan menarik ini. Mengapa menarik? Meskipun ini adalah masalah DKI Jakarta, kisruh ini adalah yang pertama terjadi di Indonesia secara telanjang. Publik semakin dewasa dan lebih peduli dengan masalah bangsa. Diskusi publik di banyak media, termasuk media sosial, adalah indikasinya. Saling tuduh siapa mengubah RAPBD adalah menu utamanya. Ahok menuduh DPRD yang menambah anggaran “siluman” sebesar Rp 12,1 triliun. Sebaliknya, DPRD menuding pihak eksekutif yang melakukannya. Bahkan, kekisruhan ini bereskalasi dalam beberapa hari terakhir, dengan aksi saling melaporkan.

Bagaimana mengurangi “bau busuk” korupsi yang mungkin terjadi pada saat penyusunan anggaran? Sistem eBudgeting yang digunakan oleh DKI Jakarta adalah salah satu jawabnya. Karena itulah, Ahok dapat dengan “mudah” mengetahui dan yakin munculnya anggaran “siluman”. eBudgeting adalah aplikasi teknologi informasi atau perangkat lunak untuk mendukung siklus penganggaran, mulai dari perencanaan, pembuatan program, sampai dengan kendali dan evaluasi. eBudgeting di Indonesia sebetulnya bukan hal baru. Kota Surabaya sudah menggunakannya mulai beberapa tahun yang lalu.

Apa manfaat dari eBudgeting? Pertama, kontrol akan lebih mudah dilakukan. Hanya mereka yang berhak yang dapat mengakses dan mengubah anggaran. Karenanya, pelacakan siapa mengisi apa seharusnya juga dapat dilakukan dengan mudah (jika fitur ini dikembangkan). Namun demikian, manfaat ini mewujud hanya jika asumsi orang yang berhak tersebut adalah orang-orang terpercaya.

Kedua, kontrol dapat dilakukan sejak tahap perencanaan. Pada kasus DKI Jakarta, eBudgeting didesain untuk dapat menolak usulan yang dianggap tidak relevan. Usulan anggaran yang “mengada-ada” dapat diminimalkan. Ahok mengklaim, fitur ini dalam sistem eBudgeting di DKI Jakarta telah menolak usulan anggaran yang tidak relevan sebesar Rp 5,3 triliun.

Ketiga, tranparansi anggaran dapat ditingkatkan. Saat ini, publik dapat melihat RAPBD detil dua versi secara online, meski tidak pada situs web resmi. Rasa penasaran publik terobati. Ke depan, RAPBD versi final, termasuk realisasinya secara detil seharusnya juga dapat diakses oleh publik. Sampai hari ini, sangat sulit mencari laporan realisasi APBD detil yang dapat diakses oleh publik. Masih banyak pihak yang risih dengan berbagai alasan. Supaya tidak hanya menjadi mimpi tanpa ujung, diperlukan keberanian khusus dari pada pemimpin pemerintahan semua tingkat. “Kalau bersih kenapa harus risih”, bunyi slogan sebuah iklan.

Keempat, kontrol realisasi anggaran akan menjadi lebih mudah dilakukan. Capaian pelaksanaan program dan keterserapan anggaran bahkan dapat diketahui secara langsung ketika sudah dilaporkan ke sistem. Dengan catatan, sistem eBudgeting memuat fitur ini. Dengan demikian, pemerintah menjadi lebih akuntabel, karena setiap rupiah pengeluaran dapat dilacak dengan mudah.

Daftar manfaat ini dapat diperpanjang, termasuk kemungkinan melakukan simulasi dan bahkan peramalan anggaran. Lagi-lagi, jika fitur ini dirasa perlu dan dimasukkan ke dalam sistem. Jika daftar manfaat ini terwujud, kepercayaan publik terhadap pemerintah pun dapat terungkit.

Namun demikian, perlu diingat, penggunaan eBudgeting bukan tanpa hambatan. Sebagai halnya banyak inisiatif penggunaaan teknologi informasi di sektor publik, hambatan terbesarnya bukan masalah teknis. Faktor non-teknis, termasuk kepentingan beragam orang yang terlibat, sangat mungkin lebih dominan. Nilai yang disuntikkan ke dalam sistem eBudgeting adalah kontrol dan transparansi. Tidak semua orang nyaman dengan ini. Masalah klasik, namun tetap aktual.

Tulisan ini dimuat dalam Kolom Analisis Harian Kedaulatan Rakyat, 6 Maret 2015


Comments Off on eBudgeting

Dec 28 2014

Tutup Botol Macet

Published by under tutup botol,Uneg-uneg

Pernah menemukan tutup botol yang sulit dibuka alias macet? Seorang kawan Anda, A, mungkin menawarkan bantuan membukanya. Dia gunakan ujung kaosnya untuk membungkus tutup supaya tidak licin. Gagal. Seorang kawan yang lain, B, mencoba menggunakan cara yang lain. Tetap gagal. Merasa tertantang, seorang kawan Anda yang lainnya lagi, C, mengerahkan kekuatannya untuk membuka, dengan teknik yang lain. Berhasil!

Apa yang dikatakan C? Dia merasa satu-satunya yang berjasa dalam membuka tutup botol macet tersebut. Betulkah kenyataannya demikian? Tidak. C lupa bahwa A dan B juga mempunyai andil dalam membuka tutup botol macet tersebut. Bisa jadi setelah A dan B putar, tutup botol sedikit longgar namun tidak cukup untuk menjadikannya terbuka. C adalah yang memungkasinya, dengan assist dari dua yang lain, mirip ketika Neymar memberikan umpan matang ke depan gawang kepada Messi. Dalam kasus jelas, bahwa C “berhutang” kepada A dan B.

Bagaimana kalau memang yang dilakukan A dan B benar-benar tidak melonggarkan tutup botol barang sedikitpun? Apakah C berhak mengklaim semua keberhasilannya? Tetap tidak. C dapat membuka tutup botol dengan tekniknya karena tahu bahwa teknik yang digunakan A dan B tidak berhasil. C belajar dari kegagalan. Inilah yang disebut dengan path-dependence, ketika sebuah keputusan yang diambil dipengaruhi oleh keputusan-keputusan sebelumnya, meskipun keputusan-keputusan ini sudah dianggap tidak relevan.

Apa moral cerita dari tutup botol macet ini? Pertama, jangan mudah melupakan atau menafikan kontribusi yang diberikan pendahulu kita. Belajarlah menghargai mereka meskipun kadang tidak mudah. Kedua, jika kita gagal, jangan malu menceritakannya kepada orang lain. Hal ini penting supaya mereka tidak mengulangi kesalahan kita. Terlalu banyak cerita kesuksesan yang diumbar banyak orang, tetapi sangat sedikit yang sebaliknya. Cerita sukses memberikan inspirasi. Cerita gagal memberikan peringatan. Ketiga, ketika berhasil jangan besar kepala. Kita sangat mungkin berhutan banyak kepada orang lain, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Timoho, 28 Desember 2014

*Catatan kecil di tengah gerimis ketika ingat mereka yang tanpa sadar melupakan jejak-jejak pendahulu.


Comments Off on Tutup Botol Macet

Oct 13 2011

Kita hanya hidup di hati orang lain

Published by under Uncategorized,Uneg-uneg

Demikian kata yang diucapkan penggali kuburan ketika Liz Murray menunggu jenazah ibunya yang akan dikuburkan. Semangat hidup Liz nampaknya sejalan dengan moral dari ucapan singkat tersebut. Liz yang mengalami kehidupan pahit ketika masih anak dan remaja, berhasil mengalahkan keterbatasannya sampai dapat berkuliah di Harvard. Bayangkan saya, dia dilahirkan dari orangtua yang meski sangat menyayanginya, keduanya [...]

Comments Off on Kita hanya hidup di hati orang lain

Oct 10 2011

Bisnis Sedot Pulsa

Beberapa hari yang lalu, baby sitter yang bekerja di rumah bercerita ketika mengikuti program kuis yang berhadiah pulsa melalui SMS di ponsel. Alih-alih mendapatkan hadiah pulsa, justru pulsa ponselnya yang terkuras. Seorang kawan juga mengeluhkan hal serupa, karena pulsa ponsel istrinya tersedot tanpa sebab yang jelas. Kasus seperti inilah yang dalam beberapa hari ini menjadi [...]

Comments Off on Bisnis Sedot Pulsa

Next »