Archive for the 'Singapura' Category

Mar 01 2015

MEA, Daya Saing dan Penelitian

Bersama dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara, tahun ini Indonesia memasuki tahapan baru dalam hubungan ekonomi regional seiring dengan penerapan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Bagi Indonesia, MEA merupakan peluang untuk membuktikan kapasitas ekonominya sebagai leader di kawasan strategis ini. Selain itu, MEA juga diharapkan tidak saja memperbesar kue ekonomi Indonesia, tapi juga pemerataan manfaatnya bagi rakyat secara keseluruhan.

Pemerataan menjadi penting mengingat meskipun merupakan kekuatan ekonomi terbesar ASEAN saat ini, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan masih relatif kalah dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Sebagai ilustrasi, penduduk Malaysia dan Thailand dapat dengan mudah menggunakan moda transportasi umum yang cepat dan nyaman dalam wujud kereta api atau monorel yang bagi masyarakat perkotaan Indonesia masih sebatas ada, belum berkualitas sepadan.

Karenanya meningkatkan daya saing menjadi kata kunci dalam upaya memaksimalkan keterlibatan Indonesa dalam MEA. Tujuannya tentu saja adalah agar jangan sampai MEA menjadikan penduduk Indonesia sebatas penonton di pinggir lapangan ekonomi kawasan. Salah satu faktor penting dalam mendukung daya saing ini adalah penelitian dan pengembangan atau research and development (R & D).

Penelitian dan pengembangan berkualitas menjadi urgen mengingat dari keduanyalah ide-ide baru nan cemerlang dapat digagas dan diwujudkan menjadi solusi atas beragam persoalan. Namun sayangnya pada sisi penelitian terutama yang berkualitas internasional, Indonesia justru tidak sekokoh ekonominya, jika dibandingkan sengan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Dari data yang dikompilasi Scimago Journal Ranking misalnya, perbandingan penelitian yang dipublikasikan pada jurnal atau seminar terindeks Scopus antara sejumlah negara ASEAN menunjukkan masih lemahnya daya saing peneliti Indonesia. Scopus sendiri merupakan database karya ilmiah bereputasi internasional yang merupakan salah satu rujukan dunia akademik. Data pada grafik berikut memberi gambaran bagaimana tertinggalnya Indonesia dibandingkan Thailang, Singapura dan Malaysia dalam hal publikasi.

Artikel Scopus Negara Asean Versi ScimagoJR

Grafik Jumlah Artikel Terindeks Scopus Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Viet Nam, 1996-2013

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, jumlah publikasi Indonesia, Malaysia, Thailand dan Viet Nam cenderung berada pada level yang sama, dengan Singapura tampil sebagai pemimpin di antara negara lainnya. Perubahan mulai terlihat ketika pada pertengahan 2000-an, Singapura, Thailand, dan Malaysia mengalami peningkatan publikasi sedangkan Indonesia dan Viet Nam cenderung statis.

Malaysia kemudian muncul sebagai kekuatan baru ketika mulai tahun 2008 mengalahkan Thailand dan akhirnya pada tahun 2010 mengalahkan Singapura, yang selama ini menjadi kontributor publikasi utama. Setelahnya Malaysia benar-benar tidak terkejar.

Sampai dengan 2013, terdapat 23.190 judul artikel terindeks Scopus hasil karya Malaysia dan pada saat yang sama Singapura dan Thailand menyumbang masing-masing 17.052 dan 11.313 judul. Indonesia pada tahun yang sama memproduksi 4.175 atau unggul tipis dibandingkan Viet Nam yang menghasilkan 3.443. Indonesia dengan demikian baru mampu menghasilkan sekitar seperlima dibandingkan Malaysia, serta seperempat dan setengah dari Singapura dan Thailand.

Mengapa Indonesia sedemikian tertinggal dibandingkan negara tetangga? Salah satu alasan yang sering digunakan adalah kurangnya sinergi kelembagaan untuk mengakomodasi sumber daya berkualitas. Anak didik kita banyak sekali yang memenangi aneka olimpiade keilmuan di berbagai negara. Namun hal ini tidak menjamin bahwa kemudian mereka akan kuliah dan mengembangkan ilmunya di Indonesia. Seringkali karena berbagai alasan mereka memilih kuliah dan bahkan menetap di negara-negara maju atau bahkan sejumlah negara tetangga.

Larinya sumber daya manusia berkualitas ke luar negeri (brain drain) ini menyebabkan potensi dalam negeri berkurang. Sebenarnya wajar jika talenta terbaik kita sering memilih negara lain karena di sana memang fasilitas yang memadai dan pendapatan yang berlipat menjadi jaminan. Sebagai gambaran, High Impact Research (HIR) di Universiti Malaya, Malaysia mendapat dana hingga sekitar Rp2 Triliyun lebih untuk penelitian unggulannya. Sesuatu yang sulit dibayangkan akan diperoleh di Indonesia.

Karenanya, pemerintah baru yang saat ini telah menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi dalam satu kementrian, memiliki momentum untuk mengejar penelitian ini. Tujuannya tidak lain agar kualitas manusia Indonesia makin meningkat sehingga memiliki daya saing dalam mengarungi pasar bebas ASEAN. Jangan sampai selama MEA berlangsung bangsa kita masih saja mengandalkan TKI sebagai sumber devisa sedangkan bangsa lain mengirimkan ahli untuk menjadi narasumber di negara kita.

Artikel di atas merupakan versi original yang saya kirimkan ke SKH Kedaulatan Rakyat. Artikel ini dengan sejumlah perubahannya kemudian dipublikasikan pada Selasa, 24 Februari 2015 dalam kolom Opini pada halaman 10. Situs UII kemudian mengulas artikel ini dalam posting bertajuk “Pentingnya Peningkatan Daya Saing Penelitian dalam Menghadapi MEA”. Saya sepenuhnya bertanggung jawab atas tulisan ini.

Comments Off on MEA, Daya Saing dan Penelitian