Archive for the 'My Writtings' Category

Mar 06 2009

Dana Riset di Inggris

Published by under My Writtings

Dari Times Higher Education Edisi 5 Maret 2009. Higher Education Funding Council for England mengumumkan alokasi dana untuk research dan teaching 2009-10. University of Oxford menempati peringkat pertama dalam jumlah dana yang diraih untuk penelitian.

20090306-top-20-biggest-research-recipients-2009-10.jpg

Berdasarkan subject, berikut alokasinya:

20090306-top-30-biggest-subject.jpg

Comments Off on Dana Riset di Inggris

Feb 19 2009

Ekspansi PTN dan Mahasiswa PTS

Dari Kompas hari ini.

20090219-kompas-pts-khawatir-kekurangan-mahasiswa.png

Comments Off on Ekspansi PTN dan Mahasiswa PTS

Feb 02 2009

Otonomi Daerah dan Investasi

Otonomi daerah banyak diyakini merupakan jalan terbaik dalam rangka mendorong pembangunan daerah (Osborne dan Plastrik, 2000). Karena melalui otonomi daerahlah, kemandirian dalam menjalankan pembangunan sesuai dengan kapasitas dan kebutuhan daerah diharapkan dapat dilakukan dengan lebih efektif dan efisien.

Dalam kerangka pembangunan, salah satu sumber penting bagi tercapainya pembangunan yang berkualitas adalah investasi. There is no (economic) growth without investment, demikian antara lain biasa dikemukakan. Mengapa investasi sedemikian penting bagi pembangunan ekonomi? Hal ini antara lain karena investasi dapat dilihat dari pengaruh investasi bagi pertumbuhan agregat yaitu dengan mendorong tingkat output dan kesempatan kerja; dan efeknya terhadap pembentukan kapital yang dalam jangka panjang akan meningkatkan potensi output dan menjaga pertumbuhan (Hamid, 2006:165).

Dalam konteks ekonomi daerah yang saat ini tengah berlangsung, idealnya daerah menjadikan investasi sebagai salah satu pendorong pembangunan daerah. Daerah sudah saatnya berkompetisi menarik sebanyak mungkin investasi sebagai penggerak pembangunan daerah sehingga potensi daerah dapat dimanfaatkan secara optimal bagi masyarakat. Lalu bagaimanakah realitas investasi di era otonomi ini?

Sebelum membahas masalah ini ada baiknya dilihat kembali kondisi investasi dalam perekonomian Orde Baru sebelum otonomi daerah berlangsung. Dari data yang ada, selama masa Orde Baru, terjadi konsentrasi investasi yang demikian besar di pulau Jawa dan Madura. Nilai rencana penanaman modal dalam negeri (PMDN) yang disetujui pemerintah untuk Jawa dan Madura sebanyak Rp370.266,9 Miliyar atau lebih dari setengah total PMDN antara tahun 1967-1998.

Tabel 1:  Penyebaran Rencana Penanaman Modal Dalam Negeri yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I (Miliyar Rupiah)

Wilayah 1967-1998 1999 2007 % 1999-2007
Jawa dan Madura 370266.9 22126.8 48552.9 119.43
Sumatera 129699.3 14746.3 41365.6 180.52
Kalimantan 73224.9 5359.5 68217.5 1172.83
Sulawesi 35307.4 1795.8 9352.5 420.8
Nusa Tenggara 5152.2 35.2 57.9 64.49
Bali 9772.4 1002.7 665.9 -33.59
Timor Timur 33116 47.8
Maluku 7675.3 20 823.6 4018
Irian Jaya 16797 8416 19840.4 135.75
Jumlah 651177 53550.1 188876.3 252.71

Sementara penanaman modal asing (PMA) yang disetujui pemerintah untuk kedua pulau ini mencapai US $141.147,8 juta atau lebih dari setengah dari total PMA pada masa tersebut.

Tabel 2:    Penyebaran Rencana Penanaman Modal Asing yang Disetujui Pemerintah menurut Dati I (Juta US $)

Wilayah 1967-1998 1999 2007 % 1999-2007
Jawa dan Madura $141,147.8 $2,635.9 $12,395.7 370.26
Sumatera $41,887.9 $7,652.6 $15,640.3 104.38
Kalimantan $11,289.8 $226.8 $5,407.0 2284.04
Sulawesi $8,980.5 $141.8 $6,223.5 4288.93
Nusa Tenggara $3,594.7 $15.0 $42.7 184.67
Bali $3,221.3 $193.8 $182.4 -5.88
Timor Timur $45.2
Maluku $393.6 $1.7 $128.6 7464.71
Irian Jaya $5,933.2 $23.2 $125.0 438.79
Jumlah $216,490.0 $10,980.0 $40,145.2 265.62

Kondisi ini antara lain terjadi karena sentralisasi kebijakan yang melandasi kebijakan pembangunan selama ini banyak mengabaikan aspek-aspek yang berkaitan dengan ruang atau wilayah (Aziz, 1987:152) sehingga alokasi dana terkonsentrasi pada daerah padat penduduk. Akibatnya berbagai sarana dan prasarana yang menarik investasi hanya dibangun di daerah-daerah padat penduduk terutama pulau Jawa (Hamid, 2006:168). Lalu bagaimana dengan perkembangan investasi di era otonomi daerah?

Secara umum, Jawa dan Madura masih menjadi pilihan utama investasi baik dalam maupun luar negeri. Hal ini antara lain terlihat dari masih besarnya porsi investasi di kedua pulau ini. Namun demikian, terjadi perkembangan yang cukup signifikan pada wilayah lain, terutama Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku, yang antara 1999 sampai dengan 2007 nilai investasinya mengalami peningkatan drastis. Selama kurang dari satu dasawarsa, PMDN wilayah tersebut naik masing-masing 1172%, 420%, dan 4018%. Sedangkan PMA naik mencapai 2284%, 4288%, dan 7464%.

Kita dapat menduga bahwa endowment resources, terutama sumber daya alam (SDA) dan sumber daya manusia (SDM) yang relatif murah menjadi salah satu faktor pendorong utama perkembangan ini. Hal ini antara lain dapat dikonfirmasi dari trend penurunan investasi yang terjadi pada pulau Bali, yang memang secara umum tidak memiliki faktor tersebut. Sedangkan secara agregat tampak bahwa otonomi daerah yang baru beberapa tahun mampu meningkatkan investasi sebesar lebih 250%, baik yang bersumber dari dalam maupun luar negeri.

Namun demikian, anomali dapat saja terjadi dalam data mikro di tingkat daerah yang lebih kecil. Otonomi daerah bisa jadi belum memberi dampak positif bagi perkembangan investasi di daerah bersangkutan. Jika ini yang terjadi, maka penelitian mendalam terkait berbagai aspek perekonomian di daerah tersebut perlu dilakukan untuk melihat secara lebih detail alasan yang melatarbelakanginya. Karena bagaimanapun, endowment resources bukan satu-satunya faktor yang mempengaruhi investasi.

Kajian KPP-OD (2002, dalam Hamid, 2006:171) misalnya dapat menjadi tolok ukur daya tarik investasi di daerah, yaitu: 1) keamanan; 2) potensi ekonomi; 3) budaya daerah; 4) sumber daya manusia; 5) keuangan daerah; 6) infrastruktur; dan 7) peraturan daerah. Dengan demikian, bila suatu daerah tidak memiliki endowment resources yang memadai, masih banyak aspek yang dapat dikembangkan untuk menarik investasi dan mendukung pembangunan daerah.

Pengalaman dalam penerapan otonomi daerah terutama dalam hubungannya dengan peraturan daerah misalnya, memberikan gambaran bagaimana belum ‘dewasa’nya sebagian pemerintah daerah dalam memanfaatkan otonomi yang diberikan. Banyaknya pemerintah daerah yang mengeluarkan sejumlah peraturan yang semata berorientasi pada peningkatan pendapatan daerah secara sepihak dan justru menghambat investasi, merupakan bukti bahwa paradigma pengelolaan potensi daerah belum sepenuhnya dipahami. Pemerintah daerah harus menyadari bahwa keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari pendapatan pemerintah daerah, tetapi harus lebih mewujud dalam peningkatan kesejahteraan rakyat, yang salah satunya dapat dipacu dengan peningkatan investasi.

Disclaimer: data berasal dari Bank Indonesia [1999, 2003, dan 2008] dan dihitung dengan membandingkan angka 1999 dan 2007, tanpa memperhatikan inflasi dan perubahan kurs.

Referensi

Bank Indonesia, 1999, Laporan Perekonomian Indonesia 1998-1999, Jakarta: Bank Indonesia.

____________, 2003, Laporan Perekonomian Indonesia 2002, Jakarta: Bank Indonesia.

____________, 2008, Laporan Perekonomian Indonesia 2007, Jakarta: Bank Indonesia.

Hamid, E.S., 2006, Ekonomi Indonesia: dari Sentralisasi Menuju Desentralisasi, Yogyakarta: UII Press.

Osborne, D. dan Plastrik, P., 2000, Memangkas Birokrasi, Jakarta: PPM.

Comments Off on Otonomi Daerah dan Investasi

Dec 09 2008

Sinergi Ilmu dan Iman dalam Isra’ Mi’raj

Published by under Alquran,My Writtings

Maha suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkati sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Israa’ [17] : 1)

Diantara 117 ayat dalam surat Al-Israa’, bahkan diantara ayat-ayat lainnya dalam Al-Qur’an, ayat pertama dari surat Al-Israa’ seperti yang telah kita kutib di ataslah yang secara jelas menerangkan peristiwa Isra’ dan Mi’raj yang dilakukan Rasulullah saw. atas kehendak-Nya. Peristiwa empat belas abad silam ini merupakan tonggak awal bagi pelaksanaan syariat sholat bagi umat Islam. Dengan demikian sholat menjadi satu-satunya ibadah yang Allah Swt. sendirilah menurunkan perintah kepada Rasulullah saw. Itulah mengapa shalat sebagai aktualisasi keislaman seseorang dijadikan sebagai tiang agama yang menjadi pembeda status iman dan nifak. Esensi shalat sebagai ibadah yang sangat personal menjadikanya media yang secara langsung menjadi penghubung, atau dengan kata lain sarana mi’raj seorang mukmin ke hadirat Rabbnya.

Peristiwa isra’ mi’raj sendiri sebagai media penyampaian kewajiban shalat memiliki arti yang sangat signifikan bagi perkembangan ummat Islam, baik di masa awal Islam ataupun sampai masa kini. Isra’ mi’raj terjadi di masa yang dalam sejarah disebut sebagai ‘am al-huzn (‘amul huzni), mengingat besarnya cobaan yang diberikan Allah Swt kepada Rasulullah. Kematian dua orang yang dekat dan secara aktif membela dakwah beliau, yaitu Siti Khadijah dan Abu Thalib, merupakan pukulan yang cukup telak bagi baginda Nabi. Ditambah lagi makin intensnya kaum kafir Quraisy dalam melakukan teror baik kepada Nabi maupun para pengikutnya. Sehingga peristiwa isra’ mi’raj dan perintah shalat yang menyertainya seolah menjadi obat mujarab bagi kegelisahan dan kesedihan Nabi tersebut. Bukankah Al-Quran mengisyaratkan pentingnya sabar dan shalat sebagai jalan mencari pertolongan di saat susah? Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat kecuali bagi orang-orang yang khusu’ (QS Al-Baqarah [2] : 45).

Di lain pihak isra’ mi’raj telah membentuk fondasi awal bagi pengembangan islam lebih lanjut di masa depan. Karena tak lama setelah peristiwa ini, rasul dan para sahabat segera melakukan eksodus dengan menjadikan kota Yatsrib sebagai lokasi hijrah. Hijrah inilah yang pada gilirannya menjadi tonggak bagi perluasan islam sebagai agama universal ke seluruh ufuk bumi. Jika dilihat dari beberapa perspektif di atas, maka tidaklah mengherankan jika peristiwa isra’ mi’raj dengan shalat sebagai fondasi pokoknya merupakan awal yang cukup besar bagi perjalanan peradaban umat islam bahkan dunia.

Betapa tidak. Jika ditilik dari ranah pemikiran ilmu pengetahuan modern, isra’ mi’raj merupakan lompatan awal yang sangat mengesankan dalam upaya membangun kesadaran dan rasionalitas berfikir manusia. Kungkungan mitos terhadap langit yang gemilang di malam hari diruntuhkan oleh peristiwa ini. Langit yang dulunya begitu disakralkan bahkan disembah sebagai tuhan menggantikan Allah Swt. Kesesatan semacam ini dibuka tabir keburukannya oleh peristiwa isra’ mi’raj dengan tembusnya langit untuk Nabi saw atas perkenan Allah Swt. Hal demikian juga masih diperkuat dengan gambaran al-quran tentang kemampuan manusia menembus langit dan bumi, yang sama-sama makhluk Allah, asalkan mereka memiliki kemampuan. Hai jama’ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat melintasinya melainkan dengan kekuatan (QS Ar Rahman [55] : 33).

Shalat Perdamaian
Jika ditilik dari beberapa rumusan di atas tampaklah bagi kita sebuah benang merah yang harus kita retas dalam menghubungkan shalat dengan perilaku keseharian kita, terutama yang berkaitan dengan kemampuan ilmu pengetahuan. Setelah Allah Swt memberikan seberkas sinar yang menerangi pikiran manusia lewat kedahsyatan akal pikiran, maka sudah selayaknya bagi manusia untuk menyembah Tuhannya Yang Maha Kuasa. Menyembah sebagai bentuk pengabdian atas anugrah yang begitu besar. Bukankah dalam banyak ayat Allah Swt mengaitkan iman di hati dengan amalan pikiran yang jernih dengan melihat tanda-tanda kekuasaan ilahi sebagai ciri orang-orang yang diridhoi-Nya? Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin, dan juga pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (QS Adz-Dzariyaat [51] : 20).

Jika kerangka pemikiran yang secara holistik melihat ibadah shalat sebagai pengabdian kepada Allah Swt dan pemanfaatan ilmu pengetahuan sebagai landasan berfikir dapat kita terapkan, maka keselarasan antara ilmu dan iman niscaya akan terjadi. Jiwa manusia yang senantiasa haus akan ilmu pengetahuan akan dapat memanfaatkan jalinan iman dan nurani sebagai penopang ilmu pengetahuan itu sendiri. Sehingga peningkatan nilai dan isi pengetahuan seseorang akan mengantarkanya pada peningkatan pengabdian kepada Tuhannya dan menghindarkannya dari perbuatan merusak akibat ilmu yang diselewengkan.
Karena ilmu yang hampa dari iman dan kontrol ilahiah akan lebih berbahaya akibatnya jika dibandingkan dengan arti sejati kejahatan itu sendiri. Ilmu yang free value akan dengan mudah dibawa ke arah kegiatan destruktif demi kepentingan pribadi maupun kelompok tanpa tanggung jawab pelakunya. Kenistaan manusia lain sebagai akibat sampingannya, akan makin meluas manakala secuil pengetahuan berada di tangan segerombol penjahat. Yang bahkan mereka ini tidak tanggung-tanggung dalam mengeksploitasi agama sebagai alat justifikasi kebenaran perilakunya. Teror atas nama agama misalnya sering mengambil bentuk-bentuk luar agama sebagai tameng demi kepentingan sesaat, yang tidak mengindahkan masa depan kemanusiaan.

Dalam kerangka inilah Allah Yang Maha Kuasa mengutus seorang Rasulullah saw sebagai pembawa agama rahmat bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya’ [21] : 107), menjaga keseimbangan keadilan di mata hukum (QS An-Nisaa’ [4] : 57), dan membawa manusia menuju kebenaran ilahi (QS Ibrahim [14] : 1). Peran semacam inilah yang secara signifikan menjadi tugas wajib umat islam sebagai umat terbaik untuk kemanusiaan. Koridor ilahiyah yang ditanamkan lewat semangat isra’ mi’raj sudah saatnya menjadi visi manusia muslim dalam tahap perkembangan dunia yang makin terarah pada penggunaan ilmu dan teknologi sebagai komponen utama kehidupan.

Yuli Andriansyah
Mahasiswa Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Santri Pondok Pesantren Universitas Islam Indonesia Yogyakarta

Yogyakarta, 12 September 2004

No responses yet

Dec 04 2008

Manajemen Pangan dalam Alquran

Published by under Alquran,My Writtings

Yusuf menjawab” Jadikanlah aku bendaharawan negara, sungguh aku akan berusaha menjaga amanat dan mengetahui pekerjaan.” (QS.Yusuf[12]:55)

Pangan sebagai unsur paling pokok dari kebutuhan hidup manusia selalu menjadi bahan perbincangan dan perdebatan yang masih terus saja mengalir. Dimulai dari kaum Fisiokrat yang melihat pentingnya lahan pertanian sebagai aset paling dominan bagi kemakmuran rakyat, pangan terus mendapat porsi penting dalam strategi pembangunan suatu negara. Beberapa pemerintahan dunia, seperti Amerika Serikat dan Australia misalnya, memberikan subsidi yang luar biasa besar bagi sektor pertanian. Karena sektor inilah yang akan langsung berhubungan dengan hajat hidup rakyat banyak. Tidaklah mengherankan jika kemudian sebuah negara bagian seperti Nebraska mampu mensuplai kebutuhan pangan untuk sepertiga kebutuhan total dunia. Pemerintah Indonesia sendiri juga dahulunya memberikan porsi utama pada sektor ini. Namun seiring perkembangan zaman dan tuntutan kemajuan teknologi, orientasi pun diarahkan pada industrialisasi. Dampak positifnya memang dapat kita rasakan, namun tanpa struktur pertanian tanaman pangan yang baik swasembada yang dahulu pernah menjadi kebanggaan seakan hanya tinggal dongeng dan cerita lalu saja.

Lalu bagaimanakah Al-Qur’an melihat permasalahan pangan ini? Salah satu surat makiyyah yang cukup banyak memberikan ulasan seputar masalah pangan suatu negara adalah surat Yusuf. Surat bernomor urut dua belas ini banyak menceritakan sebagian kisah hidup Nabi Yusuf as, yakni dalam 98 ayat dari total 111 ayat yang terdapat dalam surat ini. Surat ini diawali dengan penegasan bahwa Al-Qur’an adalah kitab mubinan yang memberi penjelasan kepada manusia dengan perantara bahara Arab agar manusia mau berfikir menggunakan akalnya (QS.Yusuf[12]:1-2). Dalam rangakaian ayat-ayat keempat puluh tiga dan seterusnya urusan logistik mulai dibicarakan. Setidaknya terdapat dua faktor pokok menajemen pangan yang gambarkan ayat-ayat tersebut.

Program Pangan Yang Baik Dan Jelas (Good Programming)
Faktor yang pertama mendapat perhatian adalah masalah Good Programming. Perencanaan yang matang dari suatu kebijakan diterangkan secara rinci dalam ayat 43 sampai dengan 49. Dimulai dari mimpi Sang Raja Mesir yang melihat tujuh ekor sapi betina gemuk dimakan oleh tujuh sapi betina kurus dan tujuh tangakai gandum yang hijau dengan tujuh tangkai yang kering (QS.Yusuf [12]:43). Para ahli nujum kerajaan mengalami kebingungan dengan mimpi ini. Lalu tampilah Nabi Yusuf as, yang sebelumnya dipenjara memberikan penjelasan terhadap masalah mimpi tersebut. Beliau lewat ilmu yang dikaruniakan oleh Allah kepadanya menceritakan bahwa selama tujuh tahun ke depan, Mesir akan mengalami panen yang baik, lalu diikuti dengan masa paceklik dalam rentang waktu yang hampir sama (QS.Yusuf[12]:47-49).

Berdasarkan ramalan futuristik dari Nabi Yusuf inilah selanjutnya diagendakanlah sebuah perencanaan (planning) jauh ke depan, yang matang untuk menghadapi bahaya kelaparan yang mungkin terjadi. Panen dan swasembada pangan yang diperoleh penduduk Mesir selama tujuh tahun diinventarisir untuk kepentingan konsumsi di masa yang akan datang. Upaya-upaya produktif untuk menjaga kestabilan produksi pangan agar seimbang dengan pertumbuhan penduduk pun dilakukan. Partisipasi aktif dari seluruh rakyat Mesir pun tampak dalam keadaan yang serba tidak pasti ini. Sehingga tak mengherankan jika kemudian rakyat Mesir berhasil melewati tantngan pangan yang melanda mereka. Bahkan rangkaian ayat selanjutnya pun menceritakan kepada kita bahwa bangsa Mesir mampu memberi bantuan tetangga-tetangga negeri lain yang kekurangan (QS.Yusuf[12]:58).

Kemampuan Memimpin Yang Efektif Dan Bertanggung Jawab (Smart Leadership)
Faktor kedua yang secara signifikan memberi kontribusi bagi efektifnya program pangan kerajaan Mesir tersebut adalah kepemimpinan yang luar biasa cerdas (smart leadership) dari seorang Nabi Yusuf as. Dikisahkan bahwa setelah menceritakan ta’wil dari mimpi Sang Raja dan diundang ke istana, Nabi Yusuf as menunjukkan kompetensi beliau sebagai seorang yang memilki kemampuan untuk menjadi bendahara negara yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan pangan pada waktu itu (QS.Yusuf[12]:55). Dalam ayat kelima puluh lima ini juga Nabi Yusuf as memberi kriteria yang membuat dirinya layak untuk jabatan penting tersebut. Kriteria pertama adalah hafidh  yang berarti mampu menjaga. Mampu menjaga amanah dan tidak menyia-nyiakannya, baik untuk kepentingan pribadi maupun golongan. Hal ini memang terbukti dengan keberhasilan beliau membawa Mesir tidak hanya aman dari bahaya kelaparan pada masa paceklik, tetapi sekaligus mampu memberikan bantuan pada negara tetangga.

Kriteri kedua yang diajukan oleh Nabi Yusuf as adalah ‘alim yang berarti memiliki kepandaian dan kemapuan intelektual. Hal ini penting mengingat pengaturan masalah suatu negara bukanlah pekerjaan ringan. Dibutuhkan semngat juang tinggi yang tak kenal putus asa untuk mewujudkan cita-cita baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur. Dengan dua kriteria inilah Nabi Yusuf kemudian memimpin badan urusan pangan negeri Mesir kala itu bersiap menghadapi bahaya kelaparan di musim kering. Melalui prediksi yang akurat akan kebutuhan pangan di masa datang, panen yang mencapai swasembada di tujuh tahun pertama disimpan untuk kepentingan masa depan. Hal ini terbukti efektif dan memberi hasil positif sehingga pada akhirnya Nabi Yusuf as mendapat kedudukan terhormat di kalangan bangsa Mesir makiinun amiin (QS.Yusuf[12]:54).

Yang cukup menarik kemudian adalah bagaimanakah kualifikasi seorang Nabi Yusuf as ini dapat diperoleh seseorang. Jika kita melihat berbagai ujian dan cobaan (fit and proper test) yang telah dijalani Nabi Yusuf as, maka nampaknya posisi dan kedudukan yang diperoleh beliau tersebut adalah wajar. Karena melihat besarnya cobaan dan gadaan yang beliau alami selama hidup ini. Pertama Nabi Yusuf as berada dalam keadaan yang tidak mengenakkan semasa kecil. Saudara-saudaranya tidak menyukainya, bahkan memasukkannya ke dalam sumur tua hingga kahirnya ia diambil seorang musafir dan dijual sebagai budak pembesar istana (QS.Yusuf[12]:15-21). Kedua beliau mendapat ujian dari istri majikannya yang mengajak kepada perbuatan yang tercela (QS.Yusuf[12]:23). Nabi Yusuf lulus dari godaan ini, namun karena faktor kekuasaan beliau pun harus rela dimasukkan ke dalam penjara. Penjara inilah yang menjadi ujian ketiga bagi Nabi Yusuf as, yang dengan ketabahan dan keimanannya beliau mampu mengatasinya (QS.Yusuf[12]:33). Itulah juga yang menjadi penguat pondasi akidah Nabi Yusuf as putra dari Nabi Ya’qub as, putra dari Nabi Ibrahim as.

Catatan Akhir
Dari pemaparan yang telah kita lihat di atas dapat kita simpulkan hal-hal sebagai berikut: pertama pembangunan infrastruktur pangan suatu negara akan berhasil dengan baik manakala orientasi ke depan dengan pertimbangan resiko menjadi titik perhatian para pengambil kebijakan. Kedua kemampuan memimpin dengan berlandaskan akidah yang kuat yang juga didasari oleh profesionalitas adalah mutlak adanya bagi setiap usaha mencapai kesejahteraan suatu kelompok di dunia apalagi di akhirat kelak. Mencontoh pribadi unggulan sperti Nabi Yusuf adalah kebutuhan terutama bagi generasi muda yang semakin tereliminir oleh kemajuan semu dari peradaban dunia yang semakin jauh dari nilai-nilai transendental. Akhirnya kepada Allahlah kita berdo’a agar seluruh upaya kita mencapai keridhoan-Nya mendapatkan pahala yang setimpal. WaAllahu A’lam.

Yuli Andriansyah
Departemen Pengembangan Intelektual dan Bahasa
Organisasi Santri Pondok Pesantren UII

Sabtu malam, 10 April 2004…

No responses yet

« Prev