Archive for the 'My Writtings' Category

Jun 12 2015

BI Rate, Pertumbuhan dan Infrastruktur

Bank Indonesia akhirnya tetap mematok BI Rate sebagai suku bunga acuan pada 7,50%. Kebijakan ini diambil sebagai bagian dari kebijakan moneter yang cenderung ketat demi menjaga inflasi di kisaran 4+/-1% selama beberapa waktu ke depan (KRJogja.Com/19/05/2015).

Bagi dunia usaha, BI Rate pada kondisi ekonomi saat ini dirasa kurang kompetitif untuk menstimulus ekonomi nasional yang sedang lesu. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal I hanya 4,71% atau dibawah perkiraan BI di kisaran 5% dan pemerintah pun merevisi target pertumbuhan dari 5,7% menjadi 5,4% untuk tahun 2015. Dalam kondisi semacam ini, penurunan BI Rate sebenarnya sangat diharapkan untuk menggerakkan roda perekonomian.

Namun demikian, BI memang dalam posisi relatif sulit karena tekanan pelemahan pertumbuhan dalam negeri juga diikuti indikator makro internasional yang tidak kondusif. Tiongkok mengalami penurunan pertumbuhan menjadi 7,0% atau turun dari 7,4%. Sejumlah negara emerging markets lainnya juga mengalami hal serupa yang menandakan recovery perekonomian dunia masih terus berjalan.

Sementara dari Amerika Serikat, bayang-bayang kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi salah satu sentimen yang perlu dipertimbangkan. Bank Sentral Amerika Serikat, The Fed, kemungkinan akan menaikkan suku bunga pada Juni atau September 2015 ini yang berpotensi membuat investor asing memindahkan dananya ke negeri Paman Sam tersebut.

Solusi yang umum digunakan bank sentral negara lain adalah menaikkan atau minimal menahan suku bunganya untuk menghindari capital outflow. Hal ini memang tidak berlaku bagi bank sentral Tiongkok yang justru memangkas suku bunga untuk menggenjot pertumbuhan. Namun bagi bank sentral negara berkembang seperti Indonesia, pilihan tidak menurunkan suku bunga dianggap lebih realistis.

Suku bunga acuan yang tidak berubah saat ini juga merupakan salah satu senjata Bank Indonesia menghadapi Ramadhan yang kurang dari sebulan lagi tiba. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar, Indonesia mengalami kecenderungan inflasi selama Ramadhan dan setelahnya karena aktivitas ekonomi yang tinggi.

Infrastruktur untuk Pertumbuhan

Mengingat suku bunga bank sentral sulit diandalkan sebagai motor penggerak pertumbuhan, maka wajar jika Pemerintahan Jokowi-JK disarankan lebih fokus pada proyek infrastruktur. Anggaran pemerintah untuk proyek infrastruktur dalam APBN-P 2015 merupakan yang terbesar sepanjang sejarah Indonesia dengan nilai hampir mencapai Rp300 Triliyun.

Perkembangan Anggaran Infrastruktur dalam APBN (Rp Triliun)

Perkembangan Anggaran Infrastruktur dalam APBN (Rp Triliun) Sumber: Bareksa.com

Anggaran yang sebesar itu, tentu menjadi potensi untuk membangun sarana dan prasarana yang akan mengakselerasi pertumbuhan. Apalagi, pemerintahan Jokowi-JK memang menjadikan infrastruktur sebagai program unggulan selama kampanye maupun setelahnya. Tentu wajar jika pemerintah diharapkan lebih fokus mengelola dana sebesar itu agar realisasinya juga sesuai dengan harapan.

Anggaran infrastruktur dan juga penanaman modal negara (PMN) yang besar pada masa pemerintahan ini tidak lepas dari kecenderungan penurunan harga minyak dunia. Persaingan industri minyak antara sejumlah negara utama dan kompetitornya menyebabkan harga minyak dunia turun. Momentum ini telah dimanfaatkan dengan baik oleh pemerintahan Jokowi-JK untuk memangkas subsidi bahan bakar dan menggantinya untuk pembangunan infrastruktur. Pemerintahan Jokowi-JK bahkan dianggap sebagian analis sedang membawa Indonesia menuju capaian pembangunan Tiongkok yang pada dua hingga tiga dasawarsa lalu dimulai dari investasi besar-besaran di sektor infrastruktur.

Perkembangan Penyertan Modal Negara (PMN) pada BUMN

Perkembangan Penyertan Modal Negara (PMN) pada BUMN Sumber: Bareksa.com

 

Komitmen pemerintah untuk menyukseskan proyek infrastruktur sendiri memang sudah nampak jelas. Selain sejumlah road show Presiden Jokowi di berbagai event internasional, komitmen di bidang hukum terkait infrastruktur juga telah dilakukan. Perubahan ketiga atas Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaran Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan Untuk Kepentingan Umum misalnya tengah disiapkan untuk menjamin proyek infrastruktur lebih mudah diekskusi dan tidak terhalang masalah pembebasan lahan.

Namun demikian, satu hal tetap perlu dicatat dalam konteks infrastruktur, yaitu pembiayaannya yang berasal dari pajak. Dengan target pendapatan pajak mencapai Rp1.489,3 Triliyun pada APBN-P, proyek infrastruktur akan sangat dipengaruhi realisasi penerimaan pajak. Sampai dengan kuartal I, baru 13,3% realisasi penerimaan pajak tercapai, jauh tertinggal dibandingkan capaian dua tahun anggaran sebelumnya.

Dari sini kemudian tantangan bagi pemerintahan Jokowi-JK muncul yaitu menggenjot penerimaan pajak dan mengawal proyek infrastruktur. Meskipun tidak mudah, pemerintah kali ini sebenarnya memiliki banyak momentum salah satunya berupa penyerapan anggaran yang relatif lebih baik dibanding masa pemerintahan sebelumnya. Artinya tidak ada alasan lagi bagi pemerintah selain bekerja lebih giat dan fokus agar pertumbuhan ekonomi di kuartal II lebih baik dan janji-janji peningkatan kualitas hidup rakyat dapat dipenuhi.

Tulisan ini merupakan versi yang telah dilengkapi dari artikel yang saya kirimkan ke SKH Kedaulatan Rakyat. Artikel ini kemudian dipublikasikan pada Senin, 1 Juni 2015 dalam kolom Opini pada halaman 12. Tanggung jawab atas isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab saya.

Comments Off on BI Rate, Pertumbuhan dan Infrastruktur

Mar 01 2015

MEA, Daya Saing dan Penelitian

Bersama dengan bangsa-bangsa di Asia Tenggara, tahun ini Indonesia memasuki tahapan baru dalam hubungan ekonomi regional seiring dengan penerapan ASEAN Economic Community atau Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Bagi Indonesia, MEA merupakan peluang untuk membuktikan kapasitas ekonominya sebagai leader di kawasan strategis ini. Selain itu, MEA juga diharapkan tidak saja memperbesar kue ekonomi Indonesia, tapi juga pemerataan manfaatnya bagi rakyat secara keseluruhan.

Pemerataan menjadi penting mengingat meskipun merupakan kekuatan ekonomi terbesar ASEAN saat ini, kesejahteraan rakyat secara keseluruhan masih relatif kalah dibandingkan sejumlah negara di kawasan. Sebagai ilustrasi, penduduk Malaysia dan Thailand dapat dengan mudah menggunakan moda transportasi umum yang cepat dan nyaman dalam wujud kereta api atau monorel yang bagi masyarakat perkotaan Indonesia masih sebatas ada, belum berkualitas sepadan.

Karenanya meningkatkan daya saing menjadi kata kunci dalam upaya memaksimalkan keterlibatan Indonesa dalam MEA. Tujuannya tentu saja adalah agar jangan sampai MEA menjadikan penduduk Indonesia sebatas penonton di pinggir lapangan ekonomi kawasan. Salah satu faktor penting dalam mendukung daya saing ini adalah penelitian dan pengembangan atau research and development (R & D).

Penelitian dan pengembangan berkualitas menjadi urgen mengingat dari keduanyalah ide-ide baru nan cemerlang dapat digagas dan diwujudkan menjadi solusi atas beragam persoalan. Namun sayangnya pada sisi penelitian terutama yang berkualitas internasional, Indonesia justru tidak sekokoh ekonominya, jika dibandingkan sengan sejumlah negara di Asia Tenggara.

Dari data yang dikompilasi Scimago Journal Ranking misalnya, perbandingan penelitian yang dipublikasikan pada jurnal atau seminar terindeks Scopus antara sejumlah negara ASEAN menunjukkan masih lemahnya daya saing peneliti Indonesia. Scopus sendiri merupakan database karya ilmiah bereputasi internasional yang merupakan salah satu rujukan dunia akademik. Data pada grafik berikut memberi gambaran bagaimana tertinggalnya Indonesia dibandingkan Thailang, Singapura dan Malaysia dalam hal publikasi.

Artikel Scopus Negara Asean Versi ScimagoJR

Grafik Jumlah Artikel Terindeks Scopus Indonesia, Malaysia, Singapura, Thailand dan Viet Nam, 1996-2013

Pada akhir 1990-an hingga awal 2000-an, jumlah publikasi Indonesia, Malaysia, Thailand dan Viet Nam cenderung berada pada level yang sama, dengan Singapura tampil sebagai pemimpin di antara negara lainnya. Perubahan mulai terlihat ketika pada pertengahan 2000-an, Singapura, Thailand, dan Malaysia mengalami peningkatan publikasi sedangkan Indonesia dan Viet Nam cenderung statis.

Malaysia kemudian muncul sebagai kekuatan baru ketika mulai tahun 2008 mengalahkan Thailand dan akhirnya pada tahun 2010 mengalahkan Singapura, yang selama ini menjadi kontributor publikasi utama. Setelahnya Malaysia benar-benar tidak terkejar.

Sampai dengan 2013, terdapat 23.190 judul artikel terindeks Scopus hasil karya Malaysia dan pada saat yang sama Singapura dan Thailand menyumbang masing-masing 17.052 dan 11.313 judul. Indonesia pada tahun yang sama memproduksi 4.175 atau unggul tipis dibandingkan Viet Nam yang menghasilkan 3.443. Indonesia dengan demikian baru mampu menghasilkan sekitar seperlima dibandingkan Malaysia, serta seperempat dan setengah dari Singapura dan Thailand.

Mengapa Indonesia sedemikian tertinggal dibandingkan negara tetangga? Salah satu alasan yang sering digunakan adalah kurangnya sinergi kelembagaan untuk mengakomodasi sumber daya berkualitas. Anak didik kita banyak sekali yang memenangi aneka olimpiade keilmuan di berbagai negara. Namun hal ini tidak menjamin bahwa kemudian mereka akan kuliah dan mengembangkan ilmunya di Indonesia. Seringkali karena berbagai alasan mereka memilih kuliah dan bahkan menetap di negara-negara maju atau bahkan sejumlah negara tetangga.

Larinya sumber daya manusia berkualitas ke luar negeri (brain drain) ini menyebabkan potensi dalam negeri berkurang. Sebenarnya wajar jika talenta terbaik kita sering memilih negara lain karena di sana memang fasilitas yang memadai dan pendapatan yang berlipat menjadi jaminan. Sebagai gambaran, High Impact Research (HIR) di Universiti Malaya, Malaysia mendapat dana hingga sekitar Rp2 Triliyun lebih untuk penelitian unggulannya. Sesuatu yang sulit dibayangkan akan diperoleh di Indonesia.

Karenanya, pemerintah baru yang saat ini telah menggabungkan Kementerian Riset dan Teknologi dan Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi dalam satu kementrian, memiliki momentum untuk mengejar penelitian ini. Tujuannya tidak lain agar kualitas manusia Indonesia makin meningkat sehingga memiliki daya saing dalam mengarungi pasar bebas ASEAN. Jangan sampai selama MEA berlangsung bangsa kita masih saja mengandalkan TKI sebagai sumber devisa sedangkan bangsa lain mengirimkan ahli untuk menjadi narasumber di negara kita.

Artikel di atas merupakan versi original yang saya kirimkan ke SKH Kedaulatan Rakyat. Artikel ini dengan sejumlah perubahannya kemudian dipublikasikan pada Selasa, 24 Februari 2015 dalam kolom Opini pada halaman 10. Situs UII kemudian mengulas artikel ini dalam posting bertajuk “Pentingnya Peningkatan Daya Saing Penelitian dalam Menghadapi MEA”. Saya sepenuhnya bertanggung jawab atas tulisan ini.

Comments Off on MEA, Daya Saing dan Penelitian

Dec 19 2014

My December

Published by under My Writtings

Comments Off on My December

Dec 05 2014

November Rain

Published by under My Writtings

Comments Off on November Rain

Aug 29 2010

Ramadhan dan Peradaban

Bulan Ramadhan selain merupakan bulan yang menjadi waktu pelaksanaan ibadah shaum (QS. Al-Baqarah [2]:185), sebagai rukun Islam, juga memiliki makna yang penting bagi peradaban umat Islam, tidak hanya ketika dibangun pada masa awal di Jazirah Arabia, namun hingga puncaknya dan saat ini. Terdapat setidaknya dua peristiwa besar yang menjadikan bulan kesembilan dalam penanggalan Hijiriyah ini memiliki relevansi dengan bangunan peradaban muslim, yaitu turunnya Alquran dan Perang Badar.

Turunnya Alquran yang diperingati pada malam ketujuhbelas setiap bulan Ramadhan merupakan salah satu anugerah terbesar bagi umat Islam, bahkan umat manusia. Alquran diyakini sebagai kitab suci, pedoman hidup, sumber aturan hukum, petunjuk sekaligus mukjizat yang tidak akan lekang selamanya sampai akhir peradaban umat manusia di dunia ini. Umat Islam mengakui kesempurnaan ajaran Islam sebagaimana dikandung Alquran sehingga tiada satupun yang terlewat di dalamnya (QS. Al-An’am [6]:38) sekaligus terjaga kesuciannya sebagaimana dijanjikan Allah SWT (QS. Al-Hijr [15]:9).

Sedangkan Perang Badar menjadi penanda awal kesuksesan ajaran Islam yang masih sangat muda kala itu, saat dihadapkan pada rezim kekuasaan yang menjadi musuh utamanya. Kemenangan gemilang umat Islam pada perang di dekat sumur milik Badar tersebut, memberikan pengaruh signifikan baik bagi umat Islam maupun kaum musyrik Mekkah. Bagi umat Islam, kemenangan atas perang dengan perimbangan kekuatan yang jauh berbeda merupakan bukti ke-Maha Kuasa-an Allah sekaligus pemenuhan janji (nubuwah) dari ajaran Rasul-Nya. Sedangkan bagi kaum musyrik Mekkah kekalahan dalam perang ini, menjadi awal bagi intrik-intrik politik selanjutnya demi menghancurkan ajaran Islam yang berpusat di Yatsrib (Madinah).

Lalu apa relevansi kedua perinstiwa tersebut jika dikaitkan dengan peradaban Islam? Jawabannya terletak antara lain pada relasi dan kohesi yang terjadi pada kedua peristiwa tersebut dengan struktur ajaran Islam itu sendiri. Ketika pertama kali diturunkan, firman Allah dalam Alquran merupakan seruan bagi manusia untuk membaca (QS. Al-‘Alaq [96]1-5). Membaca yang diajarkan Alquran adalah membaca dengan penuh keinsyafan akan kekuasaan Ilahi di alam semesta, dimulai dari membaca diri manusia sendiri melalui proses penciptaannya.

Lima ayat paling awal ini, memberikan petunjuk yang jelas bagi pentingnya ilmu pengetahuan dalam bangunan peradaban Islam sejak dini. Islam dengan Alquran sebagai sumber ajaran utamanya, telah membangun pondasi yang demikian kokoh bagi peradaban berbasis ilmu pengetahuan melalui awal wahyu. Berkembangnya ilmu pengetahuan sebagai perwujudan perintah Alquran ini merupakan salah satu tanda bagi akan munculnya peradaban besar di kemudian hari.

Ibnu Khaldun merupakan salah seorang pemikir Islam yang berpandangan bahwa muncul dan bahkan maju mundurnya suatu peradaban adalah ditopang dengan ilmu pengetahuan. Alquran memang bukan sebuah ensiklopedia ilmu pengetahuan, namun sejumlah besar informasi pengetahuan yang dikandungnya mampu terus bertahan kebenarannya sampai saat ini melalui verifikasi pengetahuan modern. Informasi Alquran tentang jasad Fir’aun yang tenggelam di laut kemudian baru diawetkan menjadi mumi, misalnya, menjadi temuan akademik di dunia kedokteran abad 20 yang membuat ahli bedah kenamaan Prancis, Maurice Bucaille, memeluk ajaran Islam.

Juga bukan merupakan rahasia bahwa ajaran Islam amat dekat, kalau tidak dikatakan berhubungan langsung, dengan ilmu pengetahuan. Kewajiban sholat misalnya, yang diiringi kewajiban wudhu membuat umat Islam harus memperhatikan air. Air yang suci dan mensucikan dalam terminologi hukum Islam, ternyata juga merupakan air yang sehat dalam ilmu kesehatan. Shaum atau ibadah puasa yang dilaksanakan umat Islam selama bulan Ramadhan, di samping puasa sunnah lain, terbukti secara klinis membuat badan menjadi lebih sehat melalui proses penghilangan racun di dalam tubuh. Shuumu tashihhuu, berpuasalah maka kamu akan sehat, demikian Nabi Saw menyabdakan.

Ilmu pengetahuan semata tentu saja belum memadai bagi sebuah bangunan peradaban yang kokoh dan bertahan lama. Diperlukan pula keyakinan yang teguh  dan mendalam akan kebenaran yang dibawa sebuah ajaran sebagai fondasi peradaban. Demikian antara lain pandangaan Sayyid Qutb dan Muhammad Abduh. Keyakinan yang teguh tersebut antara lain terwujud dan dibuktikan sejarah melalui Perang Badar saat tiga ratusan pasukan Islam, dengan izin Allah, mengalahkan pasukan musyrik Makkah yang berjumlah tiga kali lipat lebih. Tidak hanya dari sisi jumlah, umat Islam kala itu juga kalah dari sisi keahlian berperang dan juga kelengkapan persenjataan, sehingga kemenangan yang diperoleh menjadi lebih bermakna.

Kemenangan pasukan Islam di bawah pimpinan Nabi Saw, seolah mengingatkan umat manusia akan kemenangan yang sebelumnya pernah diperoleh Thalut dan pasukannya, yang di dalamnya terdapat Nabi Dawud As, atas pasukan Jaluth. Alquran menggambarkan keyakinan sebagian kecil pasukan Thalut akan kemenangan yang masih mungkin diperoleh meskipun kalah dalam jumlah, kam min fiatin qalilatin ghalabat fiatan katsiratan bi idznilLah, Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah (QS. Al-Baqarah [2]:249).

Perang dalam peradaban manapun merupakan konsekuensi logis dari upaya mempertahankan eksistensi sekaligus menjadi wujud pengakuan akan harga diri. Bangsa-bangsa besar di dunia ini, mulai dari Yunani,  Imperium Romawi, Inggris Raya, dan Prancis, hingga Amerika Serikat dewasa ini, selalu menjadi yang terdepan dalam membangun peradaban antara lain karena ditopang oleh kekuatan militer dan prestasi tempurnya. Bahwa perang merupakan sesuatu yang merusak dan membahayakan jiwa adalah sebuah kesepakatan dalam diri manusia. Namun pada saat diperlukan, seperti dalam kerangka meraih dan menjaga kemerdekaan, perang menjadi pilihan terbaik bagi sebuah peradaban untuk menunjukkan harga dirinya.

Dengan demikian, bulan Ramadhan memberikan umat Islam dua pegangan sekaligus dalam upaya membangun kembali peradaban Islam yang cemerlang. Pertama adalah perlunya kembali mengembangkan ilmu pengetahuan (dan teknologi sesuai konteks kekinian) sebagai wujud dari amanah wahyu Ilahi dalam Alquran dan kedua adalah dengan mengokohkan kembali keyakinan akan kebenaran Islam dalam konteks hubungan dengan peradaban lain. Perang dalam artian fisik memang tetap memiliki potensi akan terjadi pada setiap bangsa, namun menyiapkan infrastruktur yang memungkinkan sebuah bangsa dan peradabannya maju tanpa peperangan kini terus menjadi kebutuhan.

Dalam konteks Indonesia, sebagai bangsa dengan umat Islam terbesar dunia, semangat bulan Ramadhan bagi peradaban ini menjadi lebih nyata untuk diwujudkan di tengah keterbelakangan bangsa secara masif baik dalam aspek pendidikan, politik, budaya maupun aspek lainnya di wilayah regional. Keterbelakangan di bidang pendidikan antara lain mengakibatkan besarnya ketimpangan sosial di masyarakat dan makin derasnya arus perpindahan sumber daya manusia berkualitas ke luar negeri. Sedangkan dalam aspek politik dan budaya, keterbelakangan menyebabkan mudahnya bangsa ini menerima hinaan bangsa lain akibat lemahnya kemauan pemerintah untuk melawan, padahal dukungan rakyat demikian besar. Semoga semangat Ramadhan menjadikan kita bangsa yang kembali bangkit di bidang pendidikan, politik dan budaya demi kemajuan Indonesia.

Comments Off on Ramadhan dan Peradaban

Aug 24 2009

Ramadlan dan Format Ideal Masyarakat Islam

Published by under Alquran,My Writtings

Bulan Ramadlan(lah waktu berpuasa itu), yang saat itu Alqur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan serta yang akan memisahkan yang benar dari yang batil. Barang siapa menyaksikan awal bulan, maka berpuasalah…(QS Al-Baqarah [2] : 185).

Bagi umat Islam, terlepas dari berbagai latar belakang madzhab dan pemikiran keagamaannya, Ramadlan selalu memberi arti tak ternilai di setiap tahun perjalanan hidup yang mereka lalui. Bulan kesembilan dari kalender qamariyah ini senantiasa dinantikan sebagai tamu agung yang begitu pemurah membawa berbagai hadiah yang diberikan kepada siapa pun yang menyambutnya dengan hati gembira. Dan yang tak kalah penting adalah Ramadlan selalu meninggalkan oleh-oleh yang jumlahnya sangat banyak untuk ukuran manusia hingga mereka akan berharap seandainya saja setiap bulan dalam setahun adalah ramadlan. Adalah wajar jika kemudian bulan Ramadlan begitu ‘dikeramatan’ dan diberi porsi khusus dalam ranah lahir maupun batin umat Islam.

Ramadlan sebagai bulan ibadah sebenarnya tidak melulu menjadi bulan puasa dan tarawih seperti yang selama ini banyak dipahami masyarakat. Lebih dari itu semua, Ramadlan pada dasarnya merupakan bulan pengabdian umat Islam terhadap dunia secara komunal. Ibadah sosial yang secara komunal dilaksanakan oleh sebagian besar ummat Islam yang mampu secara ekonomi pada hakikatnya merupakan sumbangsih besar bagi peletakan dasar-dasar kehidupan egaliter di muka bumi ini. Hal demikian memang dapat dilaksanakan di luar Ramadlan, namun intensitas yang begitu tinggi di bulan ini memberi makna yang lebih jelas terhadap pola kesetaraan derajat manusia dalam tinjauan agama. Sekaligus meletakkan pondasi ideal Ramadlan sebagai bulannya ummat Islam di muka bumi.

Banyak hadits yang secara qauly menyiratkan anjuran Rasulullah Saw untuk memperbanyak ibadah sosial di bulan ini. Memberi makan seorang yang berpuasa misalnya, merupakan salah satu amalan sunnah yang memberikan pelakunya pahala seperti yang diperoleh oleh orang yang diberinya makan, tanpa sedikit pun ada pengurangan. Hal demikian jelas menunjukkan tuntunan yang begitu mulia dari ajaran Islam terhadap setiap usaha membantu dan memberi orang lain. Selain itu, banyak riwayat lain yang secara eksplisit memperlihatkan intensitas Nabi untuk memberi selama bulan Ramadhan. Kesemuannya ini merupakan indikasi akan perlunya pemantapan peran Ramadhan sebagai bulan pengabdian sosial, menuju tercapainya kesejahteraan yang lebih merata dalam masyarakat Islam.

Puasa dan Semangat Egalitarianisme dalam Agama

Diantara sekian banyak ibadah yang telah juga disyari’atkan kepada ummat sebelum Rasulullah Saw, puasa Ramadhanlah yang secara tegas dinyatakan sebagai ibadah orang-orang sebelum kita. Dalam ayat 183 surat Al-Baqarah yang menjelaskan kewajiban puasa lafadz ‘kama kutiba ‘ala alladzina min qablikum’ mengisyaratkan dengan jelas bahwa puasa telah menjadi bagian dari syari’at umat terdahulu. Ini merupakan petunjuk mengapa puasa yang begitu berat diwajibkan kepada ummat akhir zaman, sebagai pembentuk pribadi takwa. Karena dengan kesamaan pada satu aspek ibadah tersebut, sesungguhnya kedudukan setiap ummat bisa sama-sama setara dalam artian tidak ada perbedaan yang bersifat fisik jasmani. Karena sebagaimana tujuan puasa yang juga menjadi penciptaan manusia yang beraneka ragam bentuknya, takwalah yang menjadi tolak ukur ketinggian derajat suatu bangsa, inna akramakum ‘inda ‘Llahi atqakum (QS Al-Hujurat [49] : 13). Bukan kelebihan fisik dan usia, bukan pula kelebihan perolehan harta dunia.

Manusia, karenanya tidak boleh dihina karena alasan kecacatan pada fisiknya, ataupun kekurangan pada kemampuan diri yang lainnya (QS Al-Hujurat [49] : 11). Tiada pula manusia disakiti hatinya dengan pemberian yang diungkit-ungkit (QS Al-Baqarah [2] : 263). Tidak boleh pula dengan ketamakan dan angkara seseorang mengambil apa yang menjadi hak saudaranya sesama manusia dengan cara-cara yang bathil (QS Al-Baqarah [2] : 188, An-Nisaa’ [4] : 29). Dan puasa dengan tegas merupakan medan perjuangan dalam menghilangkan setiap jenis kedengkian dan ketamakan kepada orang lain tersebut.

Karena alasan itulah, semangat yang dibangun dalam ibadah puasa senantiasa bermuara pada pengembalian manusia kepada kodrat awalnya sebagai makhluk yang setara di hadapan Rabbnya. Sehingga setiap manusia mendapat hak hidup dan berkembang yang sama sebagaimana masing-masing mereka juga mendapat kewajiban yang sama untuk menjadi khalifah-Nya di muka bumi. Memakmurkan bumi dengan menegakkan ajaran-ajaran Ilahi, menjaganya dari tangan-tangan tak bertanggung jawab (QS Ar-Ra’du [13] : 25), untuk kemudian memberikan rahmat dan kedamaian dalam kehidupan bagi seluruh alam (QS Al-Anbiya’ [21] : 107). Sebagai pendidikan awal, puasa akan dikatakan berhasil, jika cara pandang manusia beriman yang melaksanakannya telah berubah. Dari melihat orang lain dari kacamata harta dan tahta dunia menjadi cara pandang iman dan takwa.

Infak dan Relativitas Kepemilikan Harta

Banyak manusia yang silau akan arti dasar sebuah benda ketika hatinya telah berisi banyak ketamakan terhadap dunia. Harta dan setiap bentuk kekayaan yang awalnya menjadi titipan untuk diberikan kepada yang berhak, berubah menjadi tujuan dan sesembahan dalam kehidupan dunia. Siang dan malam di sepanjang garis kehidupan lalu digunakan hanya untuk mencari, menumpuk, dan menimbun harta yang disangka akan mengabadikan dirinya (QS Al-Humazah [104] : 2-3). Bahkan ketika maut akan menjemput pun, harta masih dianggap mampu menyelamatkan jiwa pemiliknya, padahal ia tak lain hanya fatamorgana yang hanya menambah kehausan nafsu memiliki manusia yang tamak dan rakus.

Ramadlan datang sebagai pencuci kekotoran jiwa manusia yang rakus tersebut. Manusia diyakinkan bahwa harta adalah amanat Allah SWT yang harus ditunaikan hak-hak orang miskin yang meminta-minta didalamnya (QS Adz-Dzariyat [59] : 19, Al-Ma’arij [70] : 24). Harta bukanlah tujuan kehidupan, melainkan sarana mencapai derajat ketakwaan yang lebih hakiki. Kita memang dibenarkan, bahkan diperintahkan, mencari kebahagiaan akhirat dan dunia sekaligus (QS Al-Qashsash [28] : 77), tapi jangan sampai kebahagiaan dunia yang antara lain berwujud harta tersebut justru melalaikan kita dari tugas utama sebagai khalifah-Nya.

Dalam rangkaian ibadah Ramadlan, infak yang artian dasarnya adalah memberi orang lain, mendapat porsi yang besar. Siapa yang memberi makan seorang shoim, ia mendapat pahala setara pahala puasa orang yang diberinya makan. Siapa yang berderma pada anak yatim piatu, Allah SWT akan mengangkat derajatnya. Dan siapa berinfak demi mencapai ridha-Nya pahala akan dilipatgandakan baginya (QS Al-Baqarah [2] : 261). Bahkan secara lebih khusus, dalam bulan Ramadhan ummat Islam diwajibkan mengakhiri ibadah puasa dengan salah satu bentuk infak yang berwujud zakat jiwa yang diambil sebagai penyempurna puasa.

Zakat jiwa yang biasa disebut zakat fitri ini diwajibkan bagi setiap mereka yang masih menghirup udara kehidupan hingga terbenamnya matahari di hari terakhir Ramadhan. Ia diberikan sebagai pemberi hiburan dan penyejuk hati bagi mereka yang tidak dapat menikmati indahnya hari raya seperti kebanyakan orang lain. Juga untuk mereka yang menderita akibat ketidakadilan manusia lainnya dalam mengelola harta dan kekayaan sebagai anugerah Ilahi. Zakat inilah yang menjadi salah satu sumbangan utama dari ajaran Islam bagi manusia dan kemanusiaan sebagai wujud kepedulian sosial yang terus dibangun di dalam bulan yang mulia ini, yang didalamnya kebaikan dan keburukan hati manusia dibedakan dengan jelas, kebajikan dilipat gandakan pahalanya.

Format Ideal Masyarakat dalam Islam

Jika demikian berarti lengkap sudah cetak biru dan format masyarakat yang ingin dicapai ajaran Islam pada bulan Ramadlan ini. Lewat tempaan selama sebulan penuh, umat Islam dididik menjadi hamba yang memiliki hubungan vertikal yang baik dengan Allah lewat anek ibadah di bulan suci ini. Puasa yang berat dilaksanakan dengan keikhlasan di siang hari, shalat malam menjadi aktivitas yang kontinyu. Alqur’an pun dijadikan hiasan bibir lewat tilawah yang menyejukkan hati selama melaksanakan ibadah puasa.

Di sisi lain umat Islam juga membangun kesadaran horizontal dengan makhluk Allah yang lain atas dasar pengabdian kepada-Nya. Bershadaqah kepada yang membutuhkan dengan hanya mengharap kembalian dari-Nya, memberi makan mereka yang kelaparan, serta ditutup dengan zakat fitri sebagai penyempurna ibadah satu bulan. Dua hal diatas jika mampu dimaknai dengan benar sebagai bagian dari kehidupan dan dinamika umat pastilah mampu membawa perubahan yang signifikan bagi masa depan umat islam. Apa lagi dalam kenyataan sehari-hari kita melihat lemahnya kemampuan umat dalam berbagai bidang. Ramadhan dengan semangat perubahannya seharusnya mampu meninggalkan kesan yang akan menjadi awal bagi peningkatan harkat daan derajat umat.

Akhirnya dapatlah kita sebutkan di bagian akhir tulisan ini bahwa Ramadlan yang di dalamnya Allah SWT menurunkan kitab suci bagi ummat Islam tersebut, menyimpan banyak sekali hikmah bagi manusia dan kemanusiaan. Ia merupakan bulan dimana manusia muslim mendapat fasilitas ibadah begitu rupa, sehingga setiap amalan membuahkan lipatan pahala yang tak terkira, yang dengan pahala itu ummat akhir zaman ini tidak lagi ketinggalan dengan ummat terdahulu dalam pengabdian kepada-Nya. Bulan kesembilan dalam penanggalan berdasarkan peredaran bulan ini, juga merupakan medan perjuangan manusia beriman untuk membangun kesadaran sosialnya dalam membangun silllaturahim dan ukhuwah dengan sesama manusia dalam bingkai kasih sayang terhadap sesama. Karenanya, infak sebagai wujud kepedulian terhadap penderitaan orang lain memiliki urgensi yang mendalam di bulan seribu bulan ini. Semua itu disyari’atkan-Nya tak lain dalam rangka membentuk pribadi takwa yang menjadi mahkota penciptaan dan pengutusan makhluk bernama manusia ke muka bumi yang fana dan jauh dari hakikat keabadian ini.

Yuli Andriansyah
Asisten Dosen di Fakultas Ekonomi UII dan Ketua OSPP UII
Ditulis, Selasa, 2 November 2004

Comments Off on Ramadlan dan Format Ideal Masyarakat Islam

Apr 19 2009

Wanita dalam Kehidupan Nabi dan Ajaran Islam

Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptaan kamu dari jenis laki-laki dan perempuan, dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal secara baik. Sungguh yang termulia di sisi Allah diantaramu adalah yang paling takwa kepadaNya  (QS Al-Hujurat [49] :13)

Berbagai studi historis maupun psikologis yang dilakukan terhadap kehidupan Nabi Saw dan pengembangan awal islam, seringkali didominasi oleh subjektivitas pemikiran yang berdampak pada pendeskritan pribadi Muhammad bin Abdullah sebagai nabi dan rasul terakhir yang dipercayai oleh umat Islam. Hal ini antara lain tampak pada kritikan tajam pada perilaku Nabi Saw dalam kehidupan sehari-harinya, yang sebenarnya sangat mungkin dipengaruhi oleh budaya dan adat kebiasaan masyarakat di masanya. 

Poligami, beristri dengan lebih dari satu wanita, yang beliau lakukan adalah contoh paling mudah untuk diserang oleh para orientalis dan islamis sebagai perilaku menyimpang yang merendahkan derajat wanita. Nabi Saw yang pernah menikahi sampai sembilan orang wanita di masa hidupnya, dipandang sebagai pribadi yang menggunakan kekuasaan keagamaan demi memuaskan nafsu seksualnya, melalui pelegalan poligami tanpa adanya kebolehan poliandri, menikah dengan lebih dari satu laki-laki, bagi perempuan.

Jika dikomparasikan dengan kondisi masyarakat modern yang cenderung pada upaya penyetaraan kedudukan pria-wanita, peri kehidupan Nabi Saw saat itu boleh jadi adalah suatu pelanggaran hak asasi bagi para wanita. Apalagi jika tidak dilihat secara lebih mendalam kondisi masyarakat Arab pada waktu Islam diturunkan kala itu. Pandangan subjektif yang cenderung melihat persoalan hanya dari satu sisi inilah yang kemudian membawa dampak besar bagi pandangan dunia terhadap Nabi dan agama Islam yang beliau bawa. Padahal Islam dan peri kehidupan Nabi telah memberi posisi yang teramat tinggi bagi peningkatan harkat dan martabat wanita, bahkan jika dibandingkan dengan kehidupan modern saat ini.

Sejarah memang membuktikan bahwa Nabi Saw pernah mempraktekkan poligami. Namun itu beliau lakukan di sisa usia beliau yang sembilan tahun. Setelah menikah dengan Khadijah yang adalah seorang janda, dari usia 25 tahun hingga 54 tahun, monogamilah yang beliau jalankan sebagai prinsip pernikahan dalam kehidupan keluarga. Dan hanya dari istri pertama inilah beliau memperoleh keturunan yang diberkahi usia panjang. Padahal dari para ahli kesehatan seksual dan kejiwaan, kita mengetahui usia 25-54 atau sekitar itu, justru merupakan masa di mana gairah kehidupan, dalam hal ini keinginan terhadap kecantikan dan keindahan tubuh lawan jenis, tampil begitu menggebu dalam diri seseorang. Bukan pada usia yang dapat dikatakan senja, yaitu pada sekitar 50 dan 60-an, seperti pada pernikahan poligami yang dilakukan oleh Rasul.

Dari sisi yang lain dapat kita lihat bahwa, istri-istri yang dinikahi Nabi Saw, kebanyakan adalah janda-janda yang dengan pernikahan itu kedudukan dan harkat mereka lebih terjaga. Saudah binti Zam’ah, Hind binti Abi Umayyah, Zainab binti Khuzaimah adalah beberapa contoh dari istri Nabi Saw yang merupakan janda dari para sahabat yang meninggal dalam perang sebagai kerangka jihad, untuk membela dan mempertahankan kebenaran agama. Kehidupan berat yang disandang para janda ini beserta tanggungan anak-anak membuat pernikahan mereka dengan Nabi Saw adalah suatu anugerah sekaligus lompatan bagi keselamatan hidup mereka.

Dalam pernikahan lainnya, Nabi Saw senantiasa mengedepankan aspek perdamaian dan persahabatan sebagai latar belakang pernikahan. Pernikahan beliau dengan Huriyah binti al-Haris dan Shafiyah merupakan contoh upaya beliau menyelesaikan pertentangan dengan kelompok masyarakat yang menjadi musuhnya kala itu, yaitu suku al-Haris dan Bani Quraidzah. Untuk menjalin persahabatan yang lebih kuat dengan sahabat utama beliau, dinikahinya Hafsah binti Umar bin Khattab dan Aisyah binti Abu Bakar.
Inilah peri kehidupan pernikahan yang Nabi Saw lalui, yang justru begitu mengangkat derajat wanita, bukan menjatuhkannya dalam belenggu jahiliyah yang di masa itu banyak terjadi. Tengoklah puncak-puncak peradaban dunia kala itu, Yunani Kuno, Babilonia, Mesir dan lain sebagainya, bagaimana perlakuan bangsa-bangsa yang mendiami wilayah tersebut terhadap wanita dan kehormatannya.

Jika ditelusuri kembali pada teks-teks Alquran yang mengatur masalah poligami, akan ditemukan betapa perlindungan Islam terhadap wanita, adalah begitu tingginya. Kita bisa melihatnya dari ayat ketiga (3) dari surat An-Nisa’ [4], yang banyak dianggap sebagai justifikasi praktek poligami dalam islam: “Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap perempuan (yatim), maka kawinilah yang kamu senagi dari wanita-wanita (lain) dua, tiga, atau empat. Lalu jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka seorang saja, atau budak-budak wanita yang kamu miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat aniaya.” Ayat ini turun sebagai respon terhadap perilaku seorang wali gadis yatim, yang ingin menikahinya karena kecantikan dan kekayaan harta peninggalan yang dimiliki si gadis, tanpa ada keinginan untuk memberi mas kawin.

Alquran secara tegas melarang hal itu, karena unsur penganiayaan yang akan menimpa sang wanita akibat keinginan sepihak dari laki-laki yang tidak bertanggung jawab tersebut. Padahal dalam sebuah pernikahan yang diatur Islam, wanita memiliki kedudukan yang terhormat, karena hartanya tidak boleh dikuasai secara semena-mena oleh sang suami (QS An-Nisa [4]:6). Suamilah yang dalam konsep Islam bertanggung jawab dalam menjaga keberlangsungan hidup keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya (QS Al-Baqarah [2]:233). Suami juga berkewajiban untuk berperilaku yang baik lagi terpuji kepada perempuan yang ia nikahi (QS An-Nisa [4]:18), karena mereka berdua telah dijadikan mitra yang saling melengkapi dalam kehidupan, layaknya pakaian yang melengkapi pemakainya (QS Al-Baqarah [2]:187).

Dalam konteks waris sebagai salah satu bentuk kepemilikan dan hubungan keluarga pun Alquran memberikan posisi yang demikian besar bagi wanita. Jika pada masa jahiliyah warisan hanya diberikan kepada lelaki yang secara fisik memiliki kekuatan saja, dengan melupakan wanita, anak-anak, dan manula, maka Islam memberi pilihan lain yang lebih adil. Laki-laki punya bagian dari harta yang ditinggalkan oleh kedua orang tua dan kerabat, juga wanita punya bagian dari peninggalan yang ditinggal oleh kedua orang tua atau kerabat. Sedikit atau pun banyak bagian itu suatu ketentuan, demikian antara lain wasiat Allah SWT dalam An-Nisa [4] ayat tujuh (7).

Sejarah memang bisa jadi bercerita lain mengenai peri kehidupan wanita pada bangsa-bangsa yang mengagung-agungkan Islam sebagai jalan hidupnya. Kelamnya sejarah yang diwarnai kilatan pedang dan senjata tajam, memang menggiring wanita pada posisi paling lemah dalam lajur kehidupannya. Posisi terjepit inilah yang kemudian membawa dampak psikologis dan teologis sekaligus dalam masyarakat di dunia Islam. Sehingga setiap upaya mengembalikan posisi wanita dalam dataran yang lebih realistis sesuai dengan standar yang dicontohkan Nabi Saw lewat pernikahannya seolah menjadi barang tabu yang harus dimusuhi dan ditiadakan sama sekali.

Padahal dari sejarah pula kita melihat peranan strategis wanita dalam menopang kegemilangan generasi awal Islam membangun pondasi bagi terwujudnya benteng-benteng peradaban Islam di seluruh penjuru dunia. Sejarah Islam senantiasa merekam keberanian seorang Aisyah r.ha. dalam menentang Ali k.w. yang menjadi khalifah di masa itu, meskipun Ali k.w. sendiri adalah menantu Nabi Saw. Lebih ke belakang lagi, juga dapat kita cacat bagaimana Nabi Saw secara rutin memberi bekal ilmu melalui pengajian agama yang khusus bagi para wanita muslimah kala itu, sebagaimana hal itu beliau berikan pada kelompok sahabat laki-laki. Islam juga tidak akan melupakan jasa seorang janda kaya, Khadijah binti Khuwailid, yang gigih melindungi dakwah dan perjuangan Nabi sebagai seorang penyeru ajaran kebenaran.

Paparan di atas secara gamblang menyadarkan kita bersama, bahwa sudah selayaknya wanita memberi peran lebih bagi peradaban secara keseluruhan melalui peran strategis yang bisa dibangun. Pemberdayaan kembali peran keluarga di semua lini kehidupan sudah selayaknya kembali menjadi pertimbangan bagi pengembangan masyarakat Islam. Sekat-sekat budaya dan sejarah masa silam yang tidak perlu diungkit harusnya dapat disingkirkan dari peta peradaban baru yang akan dibangun. Perdaban baru yang melihat wanita sebagai bagian dari kehidupan dan memiliki peran bagi tumbuhnya kesadaran kemanusiaan yang lebih hakiki.

Yuli Andriansyah
Mahasiswa IESP Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia
Ketua Organisasi Santri Pondok Pesantren UII

Yogyakarta, 23 Mei 2005
A very old writing. Hoped it helps.

Comments Off on Wanita dalam Kehidupan Nabi dan Ajaran Islam

Next »