Archive for the 'budaya organisasi webometrics' Category

Feb 20 2015

Webometrics antara penyemangat dan pengganggu

Webometrics adalah sebuah sistem perangkingan web perguruan tinggi di dunia, di tahun 2014 ini lebih dari 20ribu web  perguruaan tinggi di rangking dengan metode khas webometrics yang berpusat di Spanyol.  Memang dalam perjalanannya webometrics seakan menjadi penyemangat, namun di sisi lain juga sebagai “pengganggu”, bahkan saya pernah presentasi di suatu tempat berkenaan webometrics, malah beberapa baris depan sibuk sendiri dan ada yg tidur, yah karena memang memahami webometrics akan sebagai penggangu aktifitas mereka nanti yg sudah memasuki titik nyaman, titik stabil, sedangkan dengan keberadaan optimalisasi di kampus berkenaan media online perguruan tinggi bisa seakan nambah kerjaan.

Sebelum fokus di optimalisasi media online saya 9 tahun di  penerapan sistem manajemen mutu perguruan tinggi berbasis Sistem Manajemen Mutu ISO 9001, dari versi 1994 sd 2008, waktu itu, dan memang merasakan bahwa sebuah sistem  yg baik ketika diterapkan dan menyentuh kepada budaya kerja yg sudah menjalar dari TAU SAMA TAU, akan menjadikan tumbuh resistensi. Resistensi ini sifatnya karena memang edukasi terhadapa sistem yang akan diterapkan bersifat kaku, menekan, mengawasi, dan ada evaluasi rutin, yg cukup mengganggu bagi beberapa orang yg memang tidak suka hasil kerjanya di evaluasi rutin.

Dari penerapan kedisiplinan media online dan sistem manajemen mutu di instansi pendidikan, ada beberapa benang merah yang bisa dijadikan pemahaman bersama, kebetulan juga beberapa kali menjadi tim konsultan penerapan sistem manajemen mutu dan optimalisai media online model webometrics di beberapa perguruan tinggi, ada yg bisa ditegaskan

  1. Penerapan upaya sistem yang baik, jika menyentuh pada aspek yg TERMONITOR, TERKONTROL, TERKENDALI maka pendekatan yg dilakukan harus  melebur pada budaya organisasi baru administrasi, sedangkan budaya organisasi diawali dari kesamaan persepsi, walau itu tidak harus semua elemen organisasi menyadari, perlu ada INTELEGEN dan AGEN PERUBAHAN yg ditanam di dalamnya
  2. Bahwa tantangan yang menarik adalah menciptakan ketika resistensi tinggi maka butuh konsistensi yg tinggi dari para AGEN-AGEN PERUBAHAN tsb, baik secara aktif memberikan edukasi dan pengertian, atau proaaktif ketika ada penolakan di lapangan, walau penolakan tidak mesti dalam bentuk perlaawanan, namun hanya berseberangan pandangan saja, sehingga membentuk jalur baru, yang nantinya seakan akan masing2 jalur memiliki satu kepentingan2 tersendiri, tidak integratif
  3. Untuk tahap awal, perubahan itu sebagai impact sj, bukan tujuan sehingga yg harus diperhatikan adalah bagaimana memberikan stimulasi bahwa sistem itu memang dibutuhkan baik dalam rangka perbaikan SDM, Manajemen keseluruhan, Daya Saing, Kecepatan, Kenyamanan dll karena selama ini penekaakan perubahan dengan penerapan sistem banyak yg terjebak kepada PENEKANAN dari KEKUASAAN, meski berwenang, meski bertanggungjawab, namun komunikasi terhadap KEKUASAAN menjadi KESADARAN itu menjadi penting, agar terjadi KESADARARAN BERSAMA, ini terbukti di internal ketika dulu mau di AUDIT MANAJEMEN MUTU selalu menghindar, menolak, menunda, sekarang beberapa justru minta cepat dan segera, untuk melihat performasi dengan unit lain.
  4. Ada ketauladanan dari pimpinan, ketika budaya menjadi akar masalah, maka ketauladanan adalah sinar terang dalam budaya itu sendiri,

Sehingga dalam perjalanannya penerapan webometrics memang tidak harus MENGAGETKAN stakeholder, namun dengan pola PIONER di beberapa unit, dan pemantauan yg terbuka, sehingga bisa dilihat apakah memang ada dampak yg baik, tidak merusak tatanan yg nyaman, dan yang penting adalah bahwa bisa diterapkan DENGAN MUDAH.

Semua agar menjadikan webometrics bukan pengganggu kenyamanan tetapi benar2 sebagai penyemangat, ada beberapa hal yg bisa ditekankan dalam membangun kesadaran akan adanya webometrics

  1. Pentingnya benchmarking yg murah, instan dan tidak perlu energi tinggi
  2. Pentingnya menyatukan arah opmtilisasai media online perguruan tinggi
  3. Pentingnya penguatan marketing dengan format webometrics, dalam hal ini perlu ditekankan kembali marketing memiliki banyak unsur salah satunya pola SOFT SELLING, kalau selama ini rajin iklan di koran, brosur, maka itu dirahah HARDSELLING
  4. Ada contohnya nyata dari unit yang memang membidangi media online, dijadikan pusat kajian penerapan awal, sehingga menjadi konsultatif secara internal.
  5. Meyinggunmg dalam beberapa pidato di internal berkenaan dengan webometrics menjadi ukuran peningkatan kualitas media onlline, karena hanya ukuran, maka sebagai instrumen luaran, suatu saat tentu bisa digantikan
  6. Menjadikan isyu general di internal di berbagai lapisan hingga ke satpam pun, agar menjadi trending topic yang akan meniingkatkan feedback positif dan negatif, tp tentu semua untuk kemajuan institusi

Comments Off on Webometrics antara penyemangat dan pengganggu